Kamis, 28 Juli 2011

SHOLAT DALAM AL-QUR'AN

SHOLAT DALAM AL-QUR'AN

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Secara kontekstual dan tersurat, tidak akan ditemukan adanya ayat yang memerintahkan sholat lima waktu didalam al-Qur’an. Akan tetapi ketiadaan keterangan mengenainya bukan berarti perintah sholat lima waktu sebagaimana dilakukan oleh umat Islam sekarang ini bertentangan dengan al-Qur’an. Karena waktu yang lima untuk sholat ini dijelaskan secara tersirat dalam beberapa ayat.

Kaum anti hadis, yaitu mereka yang enggan menggunakan sunnah ataupun hadis Nabi dengan alasan bahwa hadis telah mengalami distorsi dan susahnya memilah manakah yang benar-benar berasal dari Nabi dan mana yang buatan atau rekayasa pihak-pihak tertentu sembari mengemukakan bahwa al-Qur’an sudah cukup jelas dan terperinci sehingga tidak lagi memerlukan penafsiran ataupun tambahan dari hadis, biasanya akan mengatakan bahwa waktu sholat didalam al-Qur’an itu hanya tiga waktu bukan lima waktu, yaitu Fajar, Wusthaa dan Isya, berikut akan coba kita kemukakan bahwa pendapat yang demikian ini keliru.

Dan dirikanlah shalat itu pada dua bagian siang (dzuhur dan ashar) dan disebagian dari malam (isya) - Qs. Huud 11 : 114

Ayat ini menunjukkan adanya dua waktu sholat pada dua bagian bagian siang, kita semua tahu yang disebut siang itu adalah saat matahari masih bersinar dan melampaui titik zenithnya. Kedua waktu ini bersesuaian dengan hadis mengenai adanya sholat dzuhur dan ashar. Selanjutnya diujung ayat disebut satu lagi waktu sholat yaitu pada sebagian malam, dan ini bisa merujuk pada sholat isya, sehingga dari ayat ini saja bisa diperoleh tiga waktu sholat, yaitu dzhuhur, ashar dan isya.

Hendaklah engkau mendirikan sholat diwaktu tergelincirnya matahari (maghrib) sampai kelam malam (isya) dan dirikanlah sholat subuh ...
- Qs. al-Israa 17:78

Saat matahari tergelincir yaitu saat yang disebut dengan syafaq atau senja, ayat ini merujuk akan adanya kewajiban mendirikan sholat maghrib pada waktu tersebut. Sedangkan kelam malam adalah waktu dimana matahari sudah tenggelam dan kegelapan pekat menyelimuti bumi dimana waktu-waktu ini sangat baik untuk melaksanakan sholat (lihat pula surah al-Muzammil 73 ayat 2 s/d 4) dan sholat yang demikian bisa juga kita pahami sebagai sholat isya. Sedangkan akhir ayat secara jelas merujuk pada sholat fajar atau sholat subuh, sehingga tidak perlu kita bahas lebih jauh.

Dari kedua ayat ini saja, kita sudah memperoleh gambaran bahwa sholat itu sebenarnya memang ada lima waktu, sama seperti yang bisa ditemui dalam hadis-hadis Nabi serta yang menjadi tradisi kaum muslim dari jaman kejamannya. Yaitu sholat Subuh, Maghrib dan Isya tercantum dalam surah al-Israa’ 17 ayat 78 dan sholat Dzuhur dan Ashar tercantum pada surah Huud 11 ayat 114.

Selanjutnya kita akan membahas pula surah an-Nuur yang menyatakan adanya 3 waktu sholat.

.... meminta izin kepadamu pada 3 waktu, sebelum sholat subuh dan ketika kamu melepaskan pakaianmu ditengah hari (dzuhur) dan setelah sholat Isya', itulah 3 aurat buat kamu. Tidak ada larangan atas kamu selain dari itu. – Qs. an-Nuur 24 : 58

Pertama, dalam ayat ini ada istilah malakat aimanukum ada yang menterjemahkannya sebagai hamba sahaya, ada yang menterjemahkan sebagai budak dan ada pula yang menterjemahkan sebagai orang-orang yang berada dibawah tata hukum kita seperti misalnya pembantu, tukang kebun, anak-anak yang belum cukup umur dan semacamnya.

Hal yang kedua, bahwa ayat ini berbicara juga mengenai aurat yang terbuka, dimana harus dipahami berkenaan dengan tata krama yang harus dilakukan oleh mereka-mereka yang ada dalam istilah malakat aimanukum untuk menemui Nabi (konteks waktu itu) atau untuk bertemu dengan kita (dalam konteks sekarang) dimana ketiga waktu ini bila kita telusuri dengan logika merupakan waktu-waktu dimana kita memang secara umum sedang dalam keadaan beristirahat.

Misalnya waktu sebelum subuh, adalah waktu dimana sebagian dari kita masih ada yang terlelap dalam tidur panjang, dan sudah sama-sama dimaklumi bila kita tidur maka keadaan pakaian yang kita pakaipun akan acak-acakan, ada yang tidur dengan buka baju, ada yang hanya pakai celana pendek, ada juga yang pakai baju tidur ada juga yang memakai rok longgar yang mana bagi kaum wanita saat itu bisa saja posisinya sedang dalam keadaan tertentu sehingga dikhawatirkan pula dapat membuat syahwat bergolak. Karenanya alasan meminta izin sebelum langsung masuk menemui kita bisa diterima secara baik.

Lalu tengah hari disebutkan saat kita menanggalkan pakaian, ini secara umum dalam konteks masa kini adalah waktu dimana kita sedang beristirahat melepas lelah, habis bersantap siang jika tidak sedang berpuasa, dan saat kita mengaso yang mana ada diantara kita melakukannya sambil tidur-tiduran, buka baju atau menggantinya dengan baju dalam karena siang hari biasanya keadaan diluar rumah sangat panas menyengat.

Demikian pula dengan waktu setelah sholat Isya', dimana kita biasanya sudah bersiap untuk tidur dan auratpun sudah tidak menjadi perhatian lagi, misalnya wanita ada yang sudah buka jilbab, ada yang menggunakan pakaian tidur longgar, yang lelaki dengan alasan panas menggunakan celana pendek, melepas baju dan sebagainya.

Jadi ketiga waktu yang disebut dalam al-Qur'an sebagai waktu terbukanya aurat ini tidak mengindikasikan masalah waktunya tiga sholat wajib melainkan tiga waktu dimana orang-orang dalam kategori malakat aimanukum harus meminta izin sebelum masuk menemui kita.

Wassalam,


SEJARAH SHOLAT

SEJARAH SHOLAT

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Dirikanlah sholat, sungguh ini merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman

- Qs. 4 an-nisaa’ :103- 104

Hai orang-orang yang beriman, Ruku’ dan sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu ; Berbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan - Qs. 22 al-hajj : 77

Istilah Sholat berasal dari kata kerja Shalaah (yang menyatakan suatu perbuatan) dan orang yang melakukannya disebut Mushallin, sementara pusat tempat melakukannya disebut Musholla.

Kecuali bagi orang yang mushollin (yang mengerjakan sholat)

– Qs. 70 al-Ma’arij : 22

Jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim itu musholla (tempat sholat)

– Qs. 2 al-Baqarah: 125

Sholat merupakan suatu perbuatan memuliakan Allah yang menjadi suatu tanda syukur kaum muslimin sebagai seorang hamba dengan gerakan dan bacaan yang telah diatur khusus oleh Nabi Muhammad Saw yang tidak boleh dirubah kecuali ada ketentuan-ketentuan yang memang memperbolehkannya[1].

Perintah sholat sendiri sudah harus diperkenalkan sejak dini kepada generasi muda Islam agar kelak dikemudian hari mereka tidak lagi merasa canggung, malu atau malah tidak bisa melakukannya.

Dari Amer bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, berkata :

Rasulullah Saw bersabda: ‘Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan sholat disaat mereka berumur 7 tahun dan pukullah mereka jika tidak mengerjakannya saat mereka berumur 10 tahun’

- Hadis Riwayat Ahmad dan abu daud

Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat ; dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya - Qs. 20 thaahaa: 132

Dari Hadis kita mendapati bahwa mendirikan sholat sudah ditekankan mulai umur 7 tahun dan bila sampai usia 10 tahun belum juga melaksanakannya maka kita seyogyanya mulai diberi penegasan berupa pukulan sampai mereka mau mendirikannya. ; Tentu pukulan yang dimaksud disini tidak dengan tujuan menyakiti apalagi sampai pada tingkat penganiayaan, namun sekedar memberi pengajaran dan peringatan agar mau dan tidak malas untuk sholat. Bukankah secara paradoks siksa Allah jauh lebih keras dari sekedar pukulan yang kita berikan dalam rangka menyayangi anak-anak kita dan menghindarkan mereka dari azab Allah ?

Jagalah dirimu dari hari dimana seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun dan hari tidak diterima permintaan maaf serta tidak ada tebusan baginya dan tidaklah mereka akan ditolong

Qs. 2 al-Baqarah : 48

Namun al-Quran juga disatu sisi tidak menjelaskan secara detil sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan Sholat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Saw. Meski demikian al-Quran secara tegas menyatakan bahwa Sholat sudah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, seperti perintah Sholat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya[2], kepada Nabi Syu’aib[3], kepada Nabi Musa[4] dan kepada Nabi Isa al-Masih[5]. Pernyataan al-Qur’an tersebut dibenarkan oleh cerita-cerita yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang mengisahkan tata cara beribadah para Nabi sebelum Muhammad yaitu ada berdiri, ruku dan sujud yang jika dirangkai maka menjadi Sholat seperti Sholatnya umat Islam.

Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah

Perjanjian Lama – Kitab Keluaran 34:8

Masuklah, marilah kita sujud menyembah,

berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

Perjanjian Lama – Kitab Mazmur 95:6

Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah

Perjanjian Lama – Kitab Yosua 5:14

Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah,

dengan mukanya di antara kedua lututnya

Perjanjian Lama – Kitab I Raja-raja 18:42

Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan,

lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

Perjanjian Lama – Kitab Bilangan 20:6

Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya

lalu ia berlutut dan berdoa - Perjanjian Baru – Injil Lukas 22:41

Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa

- Perjanjian Baru – Injil Markus 14:35

Dari kenyataan ini, maka jelas bagi umat Islam bahwa Sholat sudah menjadi suatu tradisi dan ajaran yang baku bagi semua Nabi dan Rasul Allah sepanjang jaman, sebagaimana firman-Nya :

Sebagai ketentuan Allah yang telah berlaku sejak dahulu, Kamu sekalipun tidak akan menemukan perubahan Bagi ketentuan ALLAH itu

- Qs. 48 al-fath: 23

Kisah perjalanan Nabi Muhammad mengarungi angkasa raya yang disebut dengan istilah Isra’ dan Mi’raj yang menceritakan awal diperintahkannya Sholat kepada Nabi Muhammad sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis yang dianggap shahih atau valid oleh sejumlah ulama secara logika justru mengandung banyak ketidaksesuaian dengan fakta sejarah dan ayat-ayat al-Quran sendiri.

Menurut hadis, Isra’ dan Mi’raj terjadi sewaktu Khadijah, istri pertama Rasulullah wafat, dimana peristiwa ini justru menjadi salah satu hiburan bagi Nabi yang baru ditinggalkan oleh sang istri tercinta dan juga paman beliau, Abu Thalib dimana tahun ini disebut dengan tahun duka cita atau aamul ilzan[6].

Sementara sejarah juga mengatakan bahwa jauh sebelum terjadinya Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad dipercaya telah melakukan Sholat berjemaah dengan Khadijjah sebagaimana yang pernah dilihat dan ditanyakan oleh Ali bin abu Thalib yang kala itu masih remaja[7].

Logikanya perintah Sholat telah diterima oleh Nabi Muhammad bukan saat beliau Isra’ dan Mi’raj namun jauh sebelum itu, apalagi secara obyektif ayat al-Qur’an yang menceritakan mengenai peristiwa Mi’raj sama sekali tidak menyinggung tentang adanya pemberian perintah Sholat kepada Nabi.[8] ; Pada kedua surah tersebut hanya menekankan cerita perjalanan Nabi tersebut dalam rangka menunjukkan sebagian dari kebesaran Allah dialam semesta sekaligus merupakan kali kedua bagi Nabi melihat wujud asli dari malaikat Jibril setelah sebelumnya pernah beliau saksikan saat pertama mendapat wahyu di gua Hira.

Selain itu, diluar hadis Isra’ dan Mi’raj yang menggambarkan Nabi memperoleh perintah Sholat pada peristiwa tersebut, Imam Muslim dalam musnadnya ada meriwayatkan sebuah hadis lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan cerita Mi’raj namun disana menjelaskan bagaimana Nabi mempelajari Sholat dari malaikat Jibril.

Dari Abu Mas’ud r.a. katanya : Rasulullah Saw bersabda : turun Jibril, lalu dia menjadi imam bagiku Dan aku sholat bersamanya, kemudian aku sholat bersamanya, lalu aku sholat bersamanya dan aku sholat bersamanya dan aku sholat bersamanya Nabi menghitung dengan lima anak jarinya - Hadis Riwayat Muslim[9]

Jika demikian adanya, bagaimana dengan kebenaran hadis yang dipercaya oleh banyak orang bahwa perintah Sholat baru diperoleh Nabi sewaktu isra’ dan mi’raj ?

Mungkin kedengarannya ekstrim, tetapi meragukan atau malah menolak keabsahan validitas hadis-hadis tersebut bukanlah perbuatan yang tercela apalagi berdosa, dalam hal ini kita tidak menolak dengan tanpa dasar yang jelas, para perawi hadis tetaplah manusia biasa seperti kita adanya, mereka juga bisa salah baik disengaja apalagi yang tanpa mereka sengaja atau sadari, adalah kewajiban kita untuk melakukan koreksi jika mendapatkan kesalahan pada riwayat hadis yang mereka lakukan tentunya dengan tetap menjaga kehormatannya dan berharap semoga Allah mengampuni kesalahannya.

Beberapa kejanggalan variasi cerita Isra’ dan Mi’raj diantaranya sebut saja kisah Nabi Muhammad dan Buraq ketika berhenti di Baitul maqdis dan melakukan sholat berjemaah didalam masjidil aqsha bersama arwah para Nabi sebelumnya, padahal sejarah mencatat bahwa masjid al-aqsha baru dibangun pada masa pemerintahan Khalifah umar bin khatab tahun 637 masehi saat penyerbuannya ke Palestina yang mana notabene saat itu Nabi Muhammad sendiri sudah cukup lama wafat, beliau wafat tahun 632 masehi.

Cerita sholatnya Nabi Muhammad dan para arwah inipun patut mengundang pertanyaan, sebab Nabi sudah melakukan sholat (menurut hadis itu malah raka’atnya berjumlah 2) sehingga pernyataan Nabi menerima perintah Sholat saat Mi’raj sudah bertentangan padahal kisah ini terjadi detik-detik sebelum mi’raj itu sendiri.

Belum lagi cerita sholatnya para arwah Nabi pun rasanya tidak bisa kita terima dengan akal yang logis, masa kehidupan mereka telah berakhir sebelum kelahiran Nabi Muhammad dan mereka sendiri sudah menunaikan kewajiban masing-masing selaku Rasul Allah kepada umatnya, perlu apa lagi mereka yang jasadnya sudah terkubur didalam tanah itu melakukan sholat ?

Setelah selesai sholat berjemaah, lalu satu persatu para arwah Nabi dan Rasul itu memberi kata sambutannya … sungguh suatu hal yang terlalu mengada-ada, karena jumlah mereka ada ribuan yang berasal dari berbagai daerah dibelahan dunia ini, baik yang namanya tercantum dalam al-Quran ataupun tidak[10], berapa lama waktu yang habis diperlukan untuk mengadakan kata sambutan masing-masing para arwah ini ?

Jika dimaksudkan agar semua Nabi dan Rasul itu bertemu dan bersaksi mengenai kebenaran Muhammad, ini dibantah oleh al-Quran sendiri yang menyatakan bahwa pada masa kehidupan mereka dan pengangkatan mereka selaku Nabi dan Rasul, Allah telah mengambil perjanjian dari mereka mengenai akan datangnya seorang Rasul yang membenarkan ajaran mereka sebelumnya lalu terdapat perintah tersirat agar mereka menyampaikan kepada umatnya masing-masing :

Dan ketika Allah mengambil perjanjian terhadap para Nabi :

‘Jika datang kepadamu Kitab dan Hikmah, lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa-apa yang ada tentang diri kamu, hendaklah kamu imani ia secara sebenarnya.’ ; Dia bertanya : ‘Sudahkah kalian menyanggupi dan menerima perjanjian-Ku tersebut ?’ ; Mereka menjawab : ‘Kami menyanggupinya !’ ; Dia berkata : ‘Saksikanlah ! dan Aku bersama kamu adalah dari golongan mereka yang menyaksikan !’

- Qs. 3 ali imron: 81

Puncak kemustahilan cerita dari hadis-hadis mi’raj adalah saat Nabi Muhammad diberitakan telah bolak balik dari Allah ke arwah Nabi Musa untuk penawaran jumlah sholat yang semula 50 kali menjadi 5 kali dalam sehari semalam, apakah sedemikian bodohnya Nabi Muhammad itu sehingga dia harus diberi saran berkali-kali oleh arwah Nabi Musa agar mau meminta keringanan kepada ALLAH sampai 9 kali pulang pergi ?

Tidakkah kekurang ajaran arwah Nabi Musa dalam cerita tersebut dengan menganggap Allah juga tidak mengerti akan kelemahan dan keterbatasan umat Nabi Muhammad sebab tanpa dipikir dulu telah memberi beban kewajiban yang pasti tidak mampu dikerjakan oleh mereka sehingga arwah Nabi Musa itu harus turut campur memberi peringatan kepada Allah dan Nabi Muhammad lebih dari sekali saja sebagai suatu indikasi israiliyat (hadis buatan orang-orang Israel atau Yahudi yang sengaja dibuat untuk tetap memuliakan Nabi Musa diatas yang lain) ?

Apakah hadis-hadis yang demikian ini masih akan diterima dan dipertahankan hanya untuk mempertahankan dalil turunnya perintah Sholat, sementara al-Qur’an sendiri yang nilai kebenarannya sangat pasti justru tidak berbicara apa-apa tentang hal tersebut ?

Tidak diragukan bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan Isra’ dan Mi’raj karena hal ini ada didalam al-Quran dan bisa dianalisa secara ilmiah, tidak perlu diragukan pula bahwa Sholat merupakan salah satu kewajiban utama seorang muslim sebab inipun banyak sekali ayatnya didalam al-Quran dan hadis-hadis lain, bahkan sholat merupakan tradisi yang diwariskan oleh semua Nabi dan Rasul dalam semua jamannya. Hanya saja itu tidak berarti kaum muslimin bisa menerima semua riwayat hadis yang isinya secara jelas mempunyai pertentangan dengan al-Quran dan logika, sehingga akhirnya hanya akan menyerahkan akal pada kebodohan berpikir, padahal Allah sendiri mewajibkan manusia untuk berpikir dan berdzikir didalam membaca ayat-ayat-Nya.

[1] Misalnya jika sakit boleh sholat dengan cara duduk, berbaring hingga hanya dengan kedipan mata saja

[2] Lihat surah 21 al-anbiya ayat 73 dan surah 19 Maryam ayat 55

[3] Lihat surah 11 Huud ayat 87

[4] Lihat surah 20 Thaahaa ayat 14

[5] Lihat surah 19 Maryam ayat 31

[6] Drs. Abu Ahmadi, Mutiara isra’ mi’raj, Penerbit Bumi Aksara, hal. 27

[7] Muhammad Husain Haekal , Sejarah Hidup Muhammad, edisi besar, Penerbit Litera antarNusa, 1998, hal. 87 – 88

[8] Lihat surah 17 al-israa ayat 1 dan surah 53 an-najm ayat 13 s/d 18

[9] Fachruddin HS, Terjemah Hadits Shahih Muslim III, Bagian ke-26, Waktu Sembahyang Fardu dan Kiblat, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hal. 170

[10] lihat surah 40 al-mu’min: 78 dan surah. 17 al-israa’: 15

Wassalam,

MEMPELAJARI RAMALAN

MEMPELAJARI RAMALAN

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Meramal artinya melakukan suatu prediksi atau dugaan dan dalam dunia ilmiah istilah ini lebih populer disebut sebagai hipotesa. Sebagai sebuah prediksi tentu saja kita tidak bisa menghakiminya sebagai hal yang terlarang apalagi sesat. Prediksi atau ramalan bukan berupa nilai yang pasti sehingga hasilnya bisa benar dan bisa juga salah, tergantung seberapa akurat data-data yang diolah sebelum akhirnya menjadi sebuah perkiraan (hipotesa). Allah sendiri berfirman dalam al-Qur’an bahwa sebuah teori, sebuah prediksi ataupun ramalan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran yang sesungguhnya.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali dugaan saja. Sesungguhnya dugaan itu tidak bisa mengalahkan kebenaran [1].
Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
- Qs. 10 Yunus : 36

Namun sangat disayangkan justru manusia banyak terjebak dalam memastikan hasil akhir dari dugaan yang sebenarnya masih bersifat kemungkinan satu diantara dua.; Dalam kalangan ilmuwan terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan (dugaan) relatif disuatu jaman karena pada periode berikutnya bisa saja terdapat bukti yang memperbaiki (dugaan) kebenaran sebelumnya, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi. Tingkat keberhasilan dari penganalisaan ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu itu sendiri.

Mempelajari ilmu ramal pada hakekatnya tidak terlarang selama masih dalam koridor teori kemungkinan, namun jika keluar dari teori itu dan masuk dalam dunia keabsolutan maka tentu saja akan menuai konfrontasi terbuka terhadap ajaran agama dan nilai-nilai keuniversalan nurani (kata hati).

Apa yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dengan ramalan cuacanya serta ilmuwan vulkanologi yang mengetengahkan ramalan terhadap meletusnya sebuah gunung atau akan munculnya gempa berkekuatan tertentu disuatu daerah adalah salah satu contoh ilmu ramal yang bisa dibenarkan, sebab mereka mempergunakan teknologi yang berdasarkan hasil karya akal pikiran dan memiliki tujuan agar masyarakat bisa mewaspadai akibat yang terjadi dari kejadian-kejadian tersebut.

Ilmu perbintangan adalah ilmu yang paling banyak diselewengkan oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi dengan mencampurkannya dengan hal yang klenik dan irrasional. Padahal ilmu ini adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang luar angkasa, sehingga banyak agamawan justru memandangnya sebagai sesuatu yang negatip. Al-Qur’an sendiri memaparkan kepada kita :

Dan Dia-lah yang telah menjadikan bagi kamu beberapa bintang untuk menjadi pedoman didalam kegelapan didarat dan dilautan. Lalu Kami jelaskan tanda-tanda Kami bagi orang-orang yang mengetahuinya.
- Qs. 6 al-an’am : 97

Dan Dia jadikan tanda-tanda melalui bintang sehingga mereka mendapatkan petunjuk. - Qs. 16 an-Nahl : 16

Bintang secara umum adalah benda angkasa yang memancarkan cahaya kala malam tiba, dengan mempelajari letak dan posisi bintang-bintang tersebut manusia bisa memperoleh petunjuk arah yang menyelamatkannya dari kesesatan perjalanan. Manakala ada sekelompok orang yang menunjuk benda-benda angkasa sebagai ramalan terhadap sebuah peristiwa atau menyangkut nasib seseorang maka Nabi secara tegas bersabda :

Sesungguhnya manusia menganggap gerhana matahari dan gerhana bulan dan lenyapnya bintang-bintang dari kedudukannya karena matinya orang-orang besar dari penduduk bumi, sungguh mereka telah berbohong ! ; sebenarnya semua itu adalah ayat-ayat kekuasaan Allah, supaya para hamba-Nya bisa mengambil pelajaran dengan melihat fenomena itu dan diantara mereka ada yang melakukan instropeksi diri (pertobatan). - Hadis Riwayat Abu Daud

Dan kamu jadikan rezki kamu dan syukur kamu dengan mendustakan pernyataan bahwa kita telah diberi hujan oleh kedudukan bulan ini dan bulan itu serta bintang ini dan bintang itu. - Hadis Riwayat Ahmad, Turmudzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ali bin Abu Thalib.

Jelas bahwa ilmu perbintangan tidak boleh dijadikan ilmu meramal nasib seseorang, apalagi bila kita pelajari bagaimana sesungguhnya logo-logo zodiak seperti scorpio, leo dan sebagainya itu diciptakan dengan memaksakan keterhubungan antara bintang yang satu dengan bintang lainnya melalui sebuah garis maya (garis khayalan) padahal sesungguhnya mereka sama sekali berjauhan dan tidak nampak berhubungan sebagaimana yang sering digambarkan.

Berbicara mengenai Ilmu Fengshui ada baiknya bila kita kenali dulu sejarahnya, Basuki Soejatmiko [2] dalam bukunya menulis bahwa Fengshui mulai dikembangkan pada masa kejayaan dinasti Chou (1027 – 256 SM) yang awalnya sebuah konsep religius (keagamaan) Im dan Yang lalu seterusnya menjadi peraturan dalam membangun rumah; istilah Fengshui dikenal juga dengan nama Hongsuinipun arti harfiahnya adalah angin dan air.; melalui ilmu denah rumah ini diyakini bahwa kebahagiaan dan keberuntungan manusia yang menghuninya dimasa mendatang dipengaruhi olehnya.

Tidak ada yang aneh dan salah dalam ilmu ini apabila ia memang sekedar mengatur tata letak rumah yang ideal sehingga prinsip keseimbangan alam yang dianutnya benar-benar sesuai dan secara fakta dilapangan bisa dibuktikan.; misalnya bagaimana mengatur posisi pintu rumah, atau jendela agar tidak berhadapan langsung dengan matahari sehingga rumah sering merasa panas terutama dimusim kemarau panjang dan orang-orang yang ada didalamnya menjadi mudah emosi dan menyebabkan rumah tangga atau juga bisnis hancur.

Fengshui bisa tidak sejalan dengan pola pikir Islam saat dia melakukan nomorisasi hari-hari dalam satu minggu yang dikalkulasikan sedemikian rupa dan merujukkan nomor-nomor tersebut pada hubungan sesama manusia (biasanya menyangkut pasangan hidup dan bisnis). Apabila hasil nomornya bagus maka hubungan bisa berjalan, sebaliknya hubungan segera diakhiri, perbuatan yang sama bisa kita lihat dalam sistem yang berlaku pada primbon masyarakat Jawa. Bahkan setiap hari, bulan dan tahun pada almanak dibuat sebagai permodelan ramal demi menentukan hari baik, bulan baik dan tahun baik untuk melakukan suatu perbuatan.

Perlu ditekankan disini bahwa semuanya bukanlah hitung-hitungan matematika untung-rugi yang biasa dipraktekkan oleh para pengusaha dan manager modern namun tidak lebih dari takhayul orang-orang China dan orang-orang Jawa dimasa lalu sesuai kepercayaan dan tradisinya masing-masing. Bukankah al-Qur’an sudah berkata :

Dan apabila diperintahkan kepada mereka : ‘ikutilah apa-apa yang diturunkan oleh Allah ! ‘ ; Mereka akan menjawab : ‘Kami hanya bermaksud mengikuti tradisi nenek moyang kami !’ ; Lalu apakah mereka mau mengikutinya sekalipun nenek moyang mereka tidak mengerti sesuatu dan tidaklah terpimpin dijalan yang benar ? ‘
- Qs. 2 al-Baqarah : 170

Sesungguhnya bilangan bulan-bulan disisi Allah ada dua belas bulan; tersebut dalam kitab Allah pada hari Dia menjadikan langit dan bumi.
– Qs. 9 al-Bara’ah : 36

Tiada satu bencanapun yang menimpa di bumi maupun pada dirimu sendiri melainkan telah ditetapkan dalam kitab catatan sebelum Kami menciptakannya – Qs. 57 al-Hadiid : 22

Sungguh ! Kami sudah mengetahui orang-orang yang hidup sebelum kamu dan sungguh, Kami juga sudah mengetahui orang-orang yang akan hidup dimasa depan. – Qs. 15 al-Hijr : 24

Apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ?

Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan telinga mereka tuli, penglihatan mereka buta – Qs. 47 Muhammad : 22-23

Islam tidak mengenal hari baik bulan baik atau juga sebaliknya, semua bulan adalah baik dan setiap tahun juga baik. Tidak ada pengkultusan waktu-waktu tertentu bagi seseorang untuk melakukan sebuah kegiatan.

Jelek tidaknya nasib manusia tidak ditentukan oleh kapan dia memulai kegiatannya, namun lebih pada tindakannya sendiri yang kurang perhitungan dan mawas diri. Sebagai contoh, Islam tidak mengkeramatkan malam 17 Ramadhan yang dipercayai sejumlah ulama sebagai malam turunnya kitab suci al-Qur’an, Islam juga tidak mengkeramatkan hari 12 Rabiul Awal dimana Nabi Muhammad lahir dan meninggal dunia, semuanya adalah waktu yang berjalan sesuai kodratnya, sama sekali tidak ada yang perlu dihitung dan dikultuskan.

Tidak ada paksaan didalam agama, telah jelas jalan yang benar dan jalan yang salah ; Karena itu, siapa yang mengingkari kesalahan dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat teguh yang tidak ada putusnya. – Qs. 2 al-Baqarah : 256

Referensi :


[1] Ada sejumlah terjemahan al-Qur’an yang menterjemahkan kata mengalahkan kebenaran sebagai mencapai kebenaran – dalam hal ini penulis mengikuti tafsir al-Furqon, karya A. Hassan, Penerbit Pustaka Tamaam, Bangil, 1986, hal. 398 sebagaimana tersebut diatas.

[2] Basuki Soejatmiko, Hong Sui Nipun, Penerbit Jawa Pos, Surabaya, 1988, hal. 10.

Wassalam,

MEMPELAJARI ILMU GHAIB

MEMPELAJARI ILMU GHAIB

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Mempelajari ilmu apa saja pada dasarnya adalah kewajiban atas setiap muslim dan hal inipun berulang-ulang ditekankan oleh al-Qur’an dan Hadis. Dengan ilmu orang bisa selamat dalam beramal, dengan ilmu juga orang bisa mendapatkan kebahagiaan dan dengan ilmu juga seorang muslim tidak bisa dipermainkan, dibodohi ataupun direndahkan oleh orang lain.

Rasulullah Saw bersabda : ‘ Wahai Abu Dzar, hendaklah engkau pergi mempelajari satu ayat dari kitab Allah adalah lebih baik bagimu daripada engkau Sholat seratus rakaat; dan hendaklah engkau pergi mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan maka adalah hal tersebut lebih baik untukmu daripada engkau Sholat seribu rakaat’ – Hadis Riwayat Ibnu Majah

Berbicara mengenai ilmu ghaib merupakan ilmu yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak secara langsung tampak oleh panca indera dan memerlukan alat diluarnya untuk membantu memahami dan melihatnya ; Karenanya seorang ilmuwan yang mempelajari ilmu tentang mikroba atau virus bisa juga disebut sedang mempelajari ilmu ghaib karena mikroba atau virus tidak dapat terlihat secara kasat mata dan hanya bisa dilihat melalui alat bantu bernama mikroskop atau sejenisnya; begitu pula orang-orang yang mendalami ilmu tentang ketuhanan pada hakekatnya juga bisa dikatakan mempelajari ilmu ghaib, sebab mereka tengah mempelajari zat yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan lahir namun mampu dilihat dengan mata batin.

Memang secara umum orang akan mengkaitkan ilmu ghaib dengan suatu ilmu yang mempelajari hal-hal supranatural bahkan berhubungan erat dengan makhluk-makhluk halus lengkap dengan segala pernak-pernik mistikismenya seperti berpuasa, berpantang makan-makanan tertentu, melafaskan asma atau dzikir dari ayat-ayat al-Qur’an sekian ratus kali, tidak boleh memakai pakaian berwarna serta berbagai ragam hal yang bersifat klenik lainnya. Menarik bila kita melihat pendapat Dr. Scott Peck [1] sehubungan dengan hal ini :

Bahwa dalam berpikir tentang keajaiban, biasanya manusia selalu membayangkan hal-hal yang terlalu dramatis. Ibarat kita mencari semak yang terbakar, terbelahnya lautan dan suara-suara dari syurga. Padahal kita dapat melihat kejadian sehari-hari didalam hidup kita sebagai bukti adanya keajaiban tersebut, sekaligus mempertahankan orientasi ilmiah kita .

Mungkin pernyataan tersebut bagi sebagian orang dianggap berlawanan dengan pandangan segala macam aliran kepercayaan, filsafat, kebudayaan maupun ajaran-ajaran agama. Mereka akan menolak dengan gigih seraya mengatakan bahwa hal ghaib tidak bisa diuraikan melalui metode ilmiah atau ada juga yang berseru bahwa hal ghaib mutlak milik Allah sehingga tidak perlu diadakan eksperimental dan penelitian. Namun sekalipun demikian menurut pandangan saya, kita semua harus mengakui bahwa hasil-hasil pengkajian dunia barat atas beragam fenomena keghaiban yang ada sebagian besar telah membebaskan kita dari belenggu khayalan yang berlebihan dan sering berbau tahayul.

Selama ini kita telah terlalu berlebihan dalam memanfaatkan otak kanan yang mengurusi hal-hal yang bersifat intuitif dan mistik serta cenderung mengabaikan fungsi otak kiri yang bersifat analistis dan rasional. Melalui hasil penelitian dan pengkajian secara ilmiah juga kita tidak lagi mudah percaya terhadap apa yang disebut gejala-gejala paranormal. Kita mulai bisa membedakan antara yang palsu dan yang benar atau bisa jadi fenomena ghaib tersebut berasal dari halusinasi, histerisme maupun hipnotisme.

Oleh karena itu, mempelajari ilmu ghaib dalam perspektif ilmiah dapat dibenarkan dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama manapun. Kita jangan mudah mempolitisir ayat, hadis apalagi argumentatif dari orang-orang yang memang sebenarnya belum mampu berpikiran terbuka dan universal. Orang-orang seperti ini mungkin sedikit banyak terpengaruh oleh adanya pengaburan makna antara ghaib yang rasionalis dengan ajaran kebatinan yang non rasional seperti Theosophie, Yoga, Tantrisme maupun hal-hal lain seperti yang ada pada ajaran kitab Gatoloco dan Darmagandul [2].

Sesuai kajian ilmu pengetahuan alam modern bahwa semua benda terdiri dari atom ataupun sekelompok atom, bahkan tubuh manusia sendiripun terdiri dari atom juga. Memang atom-atom itu berbeda-beda (kurang lebih seratus macam) tetapi setiap atom mempunyai inti atom yang disebut nukleus yang dikelilingi oleh butiran-butiran kecil bernama elektron. Setiap bagian dari atom berisi sejumlah kecil listrik, inti atom bermuatan listrik positip sedangkan elektron bermuatan listrik negatip. Melalui suatu metode pelatihan tertentu, manusia dapat mengembangkan listrik yang ada pada dirinya sehingga mampu mendayagunakan listrik tersebut sesuai yang dikehendakinya.

Kita sering menyaksikan ada orang yang bisa menghidupkan lampu pijar dengan tangannya, bagaimana pula misalnya seorang Romi Rafael atau Deddy Corbudzier dapat memberi sugesti pada seseorang untuk mengikuti perintah yang mereka berikan melalui kekuatan pikiran (hipnotisme dan magnetisme), lalu kesaksian beberapa orang yang bisa melakukan levitasi (melayang diatas tanah), proyeksi astral (merogo sukmo) sampai pada melakukan suatu proses penyembuhan jarak jauh dengan kekuatan tenaga dalamnya, ini bukan sebuah khayalan semata namun memang terjadi dihadapan kita; adalah sangat tidak bijaksana apabila kita berusaha menutup mata dengan berbagai fenomena tersebut dan memberi vonis perbuatan tersebut sebagai ulah Jin atau hal yang sesat.

Mempelajari hal yang bersifat ghaib rasionalis semacam ini, pada prinsipnya tidak berkaitan dengan doktrin agama atau kepercayaan manapun, dia bisa dipelajari secara universal. Entah kepercayaannya Kristen, Budha, Kejawen, Komunis ataupun Islam. Jika ada satu perguruan atau organisasi yang menggabungkan doa-doa atau amalan tertentu dalam proses pembelajarannya maka menurut saya hanya sebagai metode dakwah dari sang guru agar para muridnya mau menjalankan perintah agama dan menggunakan ilmu tersebut pada jalan kebenaran.

Ilmu (apapun disiplinnya) adalah ibarat pisau, bisa dipergunakan untuk berbuat kebatilan dan bisa juga dipergunakan untuk hal yang baik, ilmu dan pisau hanyalah alat, kemana alat ini akan difungsikan dikembalikan lagi pada diri si-manusianya sebagai subyek yang menggunakan. Kitab suci al-Qur’an sama sekali tidak memberikan batasan kepada manusia untuk berpikir (belajar), selama pemikiran itu tidak menimbulkan ketergelinciran masyarakat pada suatu perbuatan yang batil maka al-Qur’an membuka diri terhadap fitrah kemanusiawian tersebut.

Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami disekitar alam semesta termasuk pada diri mereka sendiri, sehingga terbuktilah bagi mereka kebenaran itu – Qs. 41 Fushilat : 53

Surah al-Israa 17 ayat 85 yang disebut-sebut sejumlah orang sebagai dasar larangan Allah untuk manusia mempelajari hal yang ghaib sebenarnya tidak sesuai dengan maksud ayat itu sendiri yang berbicara tentang ruh.; Malah pada ayat tersebut didapati suatu pernyataan Allah sendiri betapapun sedikitnya pengetahuan yang ada pada manusia tentang ruh namun Allah tetap membuka rahasianya dalam kadar yang tertentu.

Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh. Jawablah : ‘Ruh itu masalah Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu mengenainya kecuali sedikit saja’ – Qs. 17 al-Israa : 85

Penafsiran yang sama juga terhadap surah al-an’aam 6 ayat 59 yang menyatakan bahwa kunci semua hal ghaib mutlak berada ditangan Allah. ; Ayat tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan perihal rahmat yang akan diterima oleh orang-orang yang mempercayai kenabian Muhammad dan perihal azab bagi mereka yang mengingkarinya.

Katakanlah : ‘Kalau ada pada diriku apa yang sangat kamu harapkan kedatangannya, niscaya berlakulah urusan antara aku dan kamu [3], namun Allah lebih tahu terhadap orang-orang yang zhalim; Disisi-Nyalah kunci-kunci hal yang ghaib, tidak akan mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada didarat dan dilaut. – Qs. 6 al-an’aam : 58-59

Tidak ada larangan bagi manusia untuk mempelajari ilmu telepati yang memungkinkan terjadinya kontak pikiran jarak jauh, sebab telepati terjadi akibat adanya proses getaran listrik yang terjadi dibagian dalam otak yang keluar dan meluncur dari pikiran seseorang kepada otak orang lainnya. Dia dapat bergerak cepat merambat diudara ataupun sebaliknya menjadi lambat dan mungkin akan tetap tinggal diudara tanpa pernah sampai kepada obyek tujuannya. Berlatih konsentrasi adalah kunci utama dari kekuatan gelombang pikiran manusia agar bisa menjalin komunikasi dengan obyeknya.

Karena itulah didalam Islam, Sholat harus dilakukan dengan konsentrasi ataupun pemusatan pikiran sebagai upaya menjalin komunikasi dengan Allah sang Pencipta. Semakin bagus tingkat konsentrasi yang dilakukan maka akan semakin cepat pula terjadinya komunikasi dua arah antara seorang muslim dengan Tuhannya.

Luruskan mukamu di setiap sholat; dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta'atanmu kepada-Nya
- Qs. 7 al-a’raaf 29

Dengan demikian, melalui ilmu telepati juga kita bisa menjawab kenapa banyak orang yang dalam sholatnya selalu berdoa namun sedikit sekali doanya tersebut yang diterima oleh Allah. Kita tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi mengalirkan pikiran kepada-Nya, dalam sholat kita bahkan masih terikat dengan lingkungan, ingat sendal yang hilang, pekerjaan menumpuk dan sebagainya; semua ini menimbulkan banyaknya getaran yang menuju dirinya sendiri dan menghalangi keluarnya getaran pikiran yang seharusnya terpancar keluar menuju Allah.

Jikapun ada yang masih bisa menerobos keluar maka gelombangnya sudah lebih lemah dan tidak memungkinkan sampai pada tujuan.; analogi telepon seluler merupakan permisalan yang sangat mudah untuk dijabarkan dalam hal ini, dimana agar bisa terjadi hubungan komunikasi dua arah maka baik sipenelepon maupun sipenerima harus berada dalam coverage area dimana sinyal-sinyal yang diberikan bisa saling menangkap. Satu saja dari keduanya memiliki pancaran lemah maka hubungan komunikasi bisa dipastikan tidak dapat berjalan lancar.

Mempelajari tenaga dalampun demikian, tidak jauh berbeda dengan belajar telepati. Hanya bedanya kalau telepati menggunakan kekuatan konsentrasi pikiran sedangkan tenaga dalam memanfaatkan kesempurnaan latihan pernapasan sehingga listrik yang ada didalam tubuh mengembang dan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Dengan melatih pernapasan yang teratur maka atom-atom tubuh akan dapat berfungsi sebagai sinar X sehingga bisa menyembuhkan penyakit tertentu dan bisa juga membuat sipelaku dapat melihat tembus tanpa dihalangi oleh tembok pemisah (kasyaf).

Albert Einstein membuktikan secara matematik bahwa semua dialam semesta ini terbentuk dari energi dengan persamaannya yang terkenal E= MC2, yang menyatakan bahwa semua benda, dari sebuah atom sampai seekor gajah, terbentuk dari energi. Bahkan stres, penyakit dan trauma emosional merupakan bentuk atau pola dari energi [4].

Pada tahun 1930-an, seorang ilmuwan Rusia bernama Semyon Davidich Kirlian bersama istrinya Valentina Kirlian berhasil menangkap gambar dari aura atau bentuk energi listrik yang ada disekeliling tubuh manusia melalui suatu proses fotografi. Dalam eksperimennya, kedua orang ini berhasil mengembangkan sebuah metode yang dapat memindahkan wujud medan sinar keatas lembaran kertas fotografis dengan perantaraan sebuah alat generator percik, dimana melalui alat ini Kirlian dan istrinya dapat membangkitkan getaran frekuensi tinggi, yakni rata-rata 150.000 getaran perdetiknya, sehingga apabila ada obyek misalnya berupa selembar daun, sebuah tangan manusia berikut aura (listrik) yang mengelilinginya akan dapat digetarkan perwujudannya keatas lembaran kertas fotografis [5].

Dengan demikian, perihal keberadaan listrik, energi atau biasa juga disebut orang dengan aura dan prana didalam diri manusia sudah bukan hal yang tidak masuk akal lagi. Mungkin pada masa yang akan datang setelah peradaban manusia semakin tinggi seiring dengan perkembangan tekhnologi yang lebih maju dan semakin dapat membuka sisi ilmiah ilmu ghaib dari hal-hal yang sebelumnya selalu bercampur dengan mitos dan campur tangan makhluk halus, ilmu-ilmu ghaib bisa saja dimasukkan dalam kurikulum pelajaran sekolah sebagai suatu ilmu yang berguna bagi kemaslahatan manusia.

Dan melihatlah orang-orang yang diberi ilmu itu bahwa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah hal-hal yang benar (logis) serta memberi petunjuk kepada tuntunan yang Maha Kuasa dan Maha Terpuji. - Qs. 34 Saba’ : 6

Dan akan kamu ketahui kenyataan kabarnya sesudah waktunya tiba - Qs. 38 Shad : 88

Dalam satu perdiskusian agama disalah satu mailing list, pernah ada yang menanyakan kepada saya akan persamaan dari mempelajari ilmu-ilmu ghaib dengan mempelajari ilmu sihir, lebih jauh lagi mereka mempertanyakan alasan kenapa bila memang kita diperbolehkan belajar hal yang ghaib tidak ada ketentuan yang jelas dari al-Qur’an maupun Sunnah Nabi-Nya; sehingga mereka masih meragu untuk mempelajarinya.

Sebenarnya kita bisa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi mengenai kewajiban manusia didalam menuntut ilmu secara luas dan universal. Sebelum kita jawab adakah persamaan antara mempelajari ilmu-ilmu ghaib seperti telepati, hipnotis, proyeksi astral atau tenaga dalam dengan mempelajari ilmu sihir, terlebih dahulu perlu dipahami apa itu sihir.

Sihir berasal dari kata as-Sahar, artinya pertemuan akhir malam dengan awal siang, jadi ada pergeseran dua situasi yaitu gelap dan terang namun suasana masih samar, dikatakan gelap sudah ada sinar dikatakan terang masih gelap sehingga sihir dimaksudkan sebagai sebuah perbuatan yang tidak jelas benar salahnya. Lebih jauh, seorang ulama bernama Ibnu Qudamah menyimpulkan sihir sebagai bundelan (buhul), mantera-mantera dan ucapan yang diucapkan atau ditulis atau mengerjakan sesuatu yang menimbulkan pengaruh pada badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa menyentuhnya [6].

Namun al-Qur’an sendiri memberikan gambaran mengenai sihir sebagai berikut :

• Identik dengan perbuatan setan dan dapat membuat seseorang bercerai (Surah 2 al-Baqarah : 102)

• Bisa membuat mata manusia membayangkan sesuatu yang hakekatnya tidak ada, seperti pertempuran Nabi Musa dengan para tukang sihir Fir’aun (Surah 20 Thaha : 66 dan Surah. 7 al-A’raaf : 116)

• Bisa berupa kata-kata yang memukau atau memikat (Surah. 10 Yunus : 2)

• Bisa berupa sesuatu yang menakjubkan (Surah 15 al-Hijr : 15)
• Ejekan terhadap kebenaran (Surah 37 as-Shaffat : 15 dan Surah 46 al-Ahqaaf : 7)

• Ejekan terhadap mukjizat (Surah 54 al-Qamar : 2)

• Bisa dilakukan dengan meniup-niup tali simpulan, semacam santet, guna-guna dan sebagainya (Surah 113 al-Falaq : 4)

Dengan demikian, berdasarkan kriteria al-Qur’an diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa sihir ternyata bisa juga mencakup pidato atau ceramah memukau yang digunakan untuk menggaet massa, sihir bisa pula berupa pertunjukan hasil kemajuan teknologi modern yang menakjubkan dalam berbagai disiplin ilmunya dan sihirpun dapat berupa perbuatan yang dilakukan untuk merugikan orang lain, baik dengan atau tanpa persekutuan dengan setan yang terdiri dari Jin dan manusia.

Sejumlah ulama masih berbeda pendapat apakah mempelajari sihir untuk kebaikan dibolehkan atau justru dilarang, sementara jika kita kembalikan pengertian sihir sebagaimana tersebut diatas maka secara tidak langsung dapat kita pastikan bahwa sihir bisa dibagi atas dua bagian, yaitu sihir dalam arti positip dan sihir dalam arti negatip.

Sihir dalam arti negatif yang bertujuan menyimpangkan manusia dari jalan kebenaran serta membuat orang lain celaka jelas sangat terlarang, baik oleh norma agama maupun norma hukum kenegaraan. Sebaliknya sihir dalam arti positip justru sangat wajib untuk dipelajari.

Sebagai tambahan, bahkan seorang A. Hassan, salah seorang ulama besar yang terkenal berpandangan tegas dalam beragama dari organisasi Persatuan Islam (Persis) berpendapat bahwa mempelajari ilmu magnetisme (kekuatan gaib) sama sekali tidak bisa dipersamakan dengan mempelajari ilmu sihir, karena menurut beliau dalam tiap-tiap urat halus yang ada diotak maupun diseluruh tubuh manusia tersimpan magnetisme yang justru menjadi salah satu unsur pokok dari kehidupan yang bilamana unsur ini tidak ada maka akan matilah manusia tersebut [7].

Untuk menyikapi bentuk-bentuk sihir yang ada ini, mungkin kita bisa menjadikan hadis berikut sebagai parameter:

Auf bin Malik bertanya : Adalah kami bermantera pada masa jahiliah ya Rasulullah ! Bagaimana pendapat anda tentang hal ini ? Maka beliau bersabda : Hadapkan mantera-mantera kamu itu kepadaku, tidak apa-apa mantera-mantera itu selama tidak ada syirik didalamnya - Hadis Riwayat Muslim

Memang hadis ini tidak berbicara mengenai sihir melainkan mantera, namun kita bisa mengambil keumuman dari hadis Nabi tersebut yang intinya menyatakan bahwa semua hal yang tidak ada unsur syirik maka boleh dikerjakan. Memukau orang lain terhadap kecanggihan teknologi modern, mengajak massa agar mau melakukan apa yang kita katakan melalui pidato, ceramah, mempelajari ilmu fisika, kimia, tenaga dalam, hipnotis dan sebagainya adalah salah satu bentuk sihir yang tentu saja tidak bisa dikatakan terlarang.;

Apa yang disampaikan oleh Nabi kepada orang-orang dimasanya sebagian besar berupa ayat-ayat yang bersifat muhkamat atau yang sangat jelas arti dan maknanya (misalnya mengenai larangan judi, zinah, membunuh, makanan haram dan sebagainya) sementara ada lagi yang disampaikan oleh beliau dengan pola mutasyabihat (ayat yang memerlukan pemahaman dan pengkajian secara khusus dan ilmiah) yang tidak bisa disampaikannya secara langsung mengingat tingkat pemikiran masyarakat dijamannya belum mampu memahaminya.

Contoh nyata saja saat beliau bercerita mengenai perjalanan Isra’ dan Mi’raj sejumlah orang malah berbalik murtad dan menuduhnya berbohong dengan cerita yang tidak logis menurut ukuran pemikiran manusia dijaman itu.; Sebab bagaimana mungkin manusia bisa bolak-balik bepergian dari Mekkah ke Yerusalem hanya dalam waktu setengah malam saja dan esoknya sudah ada lagi berkumpul dengan mereka dalam keadaan bugar. Ditambah lagi Nabi meneruskan ceritanya tentang perjalanannya menuju luar angkasa; sungguh ini cerita yang irrasional dan tidak dapat mereka pahami.

Namun saat waktu membawa kita keabad 20 sekarang, semua cerita Nabi tersebut menjadi sangat masuk akal, bepergian dari Mekkah ke Yerusalem atau malah lebih jauh lagi dari sana dalam tempo yang singkat bukan suatu isapan jempol atau dongeng sebelum tidur, karena peradaban diabad 20 telah mengenal pesawat terbang, mengenal jet, mengenal roket dan seterusnya yang mampu membawa manusia pergi dari satu daerah kedaerah lain yang berjauhan dalam waktu yang relatif singkat. Oleh sebab itulah, dalam rangka memahami ayat mutasyabihat diperlukan metode dan teknologi yang menuntut pola pikir luas.

Dia yang telah menurunkan Kitab kepadamu, sebagian isinya berupa ayat-ayat yang muhkamat yaitu inti sari dari Kitab; dan sebagian lainnya berupa ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang didalam hatinya ada kesesatan, mencari-cari apa yang bersifat mutasyabihat untuk membuat fitnah dan memberi penafsiran terhadapnya. Padahal tidaklah mengetahui pemahamannya kecuali Allah dan orang-orang yang berilmu.; Katakanlah : ‘Kami beriman kepada-Nya, semua ayat-ayat itu berasal dari Tuhan kami, dan tidaklah memahaminya kecuali orang-orang yang memiliki pemikiran.’ – Qs. 3 Ali Imron : 7

Demikianlah kiranya ayat tersebut memberi penjabaran kepada kita, bagaimana Allah sendiri menyatakan ayat-ayat Muhkamat sebagai inti dari wahyu yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad, bagaimana secara jelas, tegas dan lugas bercerita mengenai prinsip Tauhid, bagaimana mengatur kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara secara umum sehingga Nabi Muhammad mampu dijadikan barometer (teladan) dalam kehidupan.

Sementara disisi lain, Allah juga menurunkan wahyu yang bersifat samar, metafora yang sekali lagi masih memerlukan penganalisaan lebih lanjut yang tidak bisa ditafsirkan secara sembarangan karena hanya akan menimbulkan fitnah dan mengacaukan kehidupan bermasyarakat.

Surah Ali Imron ayat 7 ini menegaskan bahwa pemahaman ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah sendiri dan orang-orang yang berilmu, yaitu sebagaimana dipertegas-Nya kembali diakhir ayat tersebut yaitu bagi mereka yang memiliki pemikiran.; Sudahkah kita memanfaatkan akal kita untuk berpikir logis ?

Mengenai hal-hal yang tidak pernah ada bimbingan atau pengarahan langsung oleh Nabi maupun para keluarga dan sahabatnya yang terpimpin bukan berarti sesuatu itu tidak dibenarkan untuk dipelajari. Sebab jika pemikiran yang demikian tidak kita luruskan maka akan membuat banyak manusia meninggalkan ajaran Islam dengan menganggapnya sebagai agama yang sempit, penuh kebodohan dan jauh dari nilai-nilai universal (rahmatan lil ‘alamin). Tidak perlu kita mengulangi sejarah masa lalu dari orang-orang yang pernah mengingkari perlunya belajar ilmu kalam, ilmu biologi maupun ilmu-ilmu lainnya bahkan mengecapnya sebagai perilaku bid’ah [8].

Umat Islam harus bangkit, melepaskan pikirannya dari semua kesempitan berpikir yang dogmatis. Islam pernah melahirkan tokoh besar bernama Umar bin Khatab yang dibalik keteguhan keimanannya juga seorang intelektual yang dengan intelektualitasnya itu berani mengemukakan ide-ide dan melaksanakan tindakan-tindakan inovatif yang sebelumnya tidak pernah dicontohkan oleh Nabi bahkan sepintas lalu justru bisa dipandang tidak sejalan dan cenderung bertentangan dengan pengertian tekstual al-Qur’an dan sunnah padahal apa yang dilakukan oleh Umar hanyalah sebuah tindakan dalam rangka mengaktualisasikan ajaran Islam ditengah jaman yang sama sekali berbeda dengan jaman kehidupan Nabi sebelumnya.

Dan janganlah kamu jadikan nama Allah sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan, ibadah dan menjalin perdamaian antar manusia
Qs. 2 al-Baqarah : 224

Contoh kisah Khalifah Umar bin Khatab yang mengembalikan harta rampasan perang berupa tanah pertanian di Siria dan Irak kepada penduduk setempat memang sempat mengundang perdebatan diantara beberapa sahabat Nabi seperti Bilal (orang yang diangkat oleh Nabi sebagai muadzin pertama) dengan merujuk pada surah al-anfal ayat 41 dan menyatakan bahwa Umar sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Sunnah :

Ketahuilah, bahwa apa yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil (para pengembara), jika memang kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad). - Qs. 8 al-anfal : 41

Pendapat Bilal memang memiliki dasar kuat apalagi Nabi sendiri pernah membagi-bagikan tanah pertanian Khaibar setelah dibebaskan dari kekuasaan orang Yahudi. Namun Umar menganggap bahwa umat Muslim tidak perlu terlalu kaku didalam memperlakukan ayat-ayat Qur’an dan perlu juga mempertimbangkan kondisi jaman yang dijalani.

Ali bin Abu Thalib yang merupakan keluarga paling dekat dengan Nabi, orang yang diamanahkan untuk mengurus jenasah beliau saat wafat dan sekaligus satu-satunya orang yang pernah diangkat Nabi sebagai saudara bagaikan persaudaraan Harun terhadap Musa dalam perang Tabuk mengatakan dihari meninggalnya Umar bin Khatab :

Alangkah bahagianya ! Dia telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, menghindar dari masa kekacauan dan menegakkan sunnah. Dia pergi dalam keadaan bersih; jarang bercela, meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukannya.

Memenuhi ketaatan kepada Tuhannya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya. Ia berangkat meninggalkan umat pada saat mereka berada dijalan-jalan yang saling bersimpangan tak menentu arahnya, sedemikian sehingga yang tersesat sulit beroleh petunjuk, yang sadarpun tak mampu meyakinkan diri [9].

Mungkinkah penilaian Ali bin Abu Thalib terhadap kepribadian Umar bin Khatab tersebut keliru? Tidakkah pola pikir dari Umar bin Khatab juga mampu kita warisi untuk mengaktualisasikan ajaran Islam dijaman penuh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini ? Jika nama Umar bin Khatab yang hidup ditengah jaman padang pasir berhasil tercantum dalam buku seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H. Hart [10] yang notabene bukan beragama Islam, bagaimana mungkin kita-kita yang hampir setiap harinya bergelut dengan telepon seluler dan Internet masih mengembangkan cara berpikir yang sempit ?

Ayat-ayat mutasyabihat masih menanti orang-orang seperti Umar bin Khatab untuk membuka rahasia yang terkandung didalamnya, semua ayat al-Qur’an sudah diperuntukkan oleh Allah bagi kemaslahatan hidup manusia tanpa ada pengecualian. Tidak inginkah kita memanfaatkannya ?

Referensi :


[1] Dr. Scott Peck, The Road Less Travelled, dikutip dari Lillian Too, dalam Explore The Frontiers Of Your Mind, Elex Media Komputindo, 1997, hal. 40

[2] Mengenai ini bisa dilihat pada buku tulisan Dr. H.M. Rasjidi, Islam dan Kebatinan, Penerbit Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta

[3] Ayat ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad tidak berkuasa menurunkan azab terhadap orang-orang yang mengingkarinya karena hal menurunkan azab adalah urusan Allah, terserah kepada-Nya kapan dan bagaimana azab tersebut akan terjadi, Allah maha mengetahui apa hikmah dari semuanya, karena Dia yang memegang kunci dari urusan yang belum tampak secara lahiriah saat itu.

[4] Ric A. Weinman,Tangan Anda dapat menyembuhkan Panduan Penyaluran Tenaga, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, 1990, hal. xi

[5] Willem Hogendoorn, Paranormal, kenyataan dan gejala dalam kehidupan, Penerbit Dahara Prize, Semarang, 1991, hal.27
[6] Wahid Abdussalam Baly, Ilmu Sihir dan Penangkalnya, Tinjauan al-Qur’an, Hadits dan Ulama, dengan pengantar DR. H. Komaruddin Hidayat, Penerbit Logos Publishing House, 1995, Hal. 2.

[7] A. Hassan, Soal Jawab Masalah Agama 3-4, Penerbit Persatuan Bangil, hal. 1686 - 1688
[8] Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Penerbit PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1984, hal. 102
[9] Mutiara Nahjul Balaghah : Wacana dan surat-surat Imam Ali r.a., Dengan pengantar Syaikh Muhammad Abduh untuk buku Syarh Nahjul Balaghah, Terj. Muhammad al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, hal. 66.

[10] Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, terj. H. Mahbub Djunaidi, Penerbit PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982, hal. 264-266

Wassalam,

PERJANJIAN NAFS

PERJANJIAN NAFS

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Benarkah Nafs kita pernah berjanji dihadapan Allah ?

Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas Nafs (anfus) mereka : 'Bukankah Aku Tuhan kamu ?' ; Mereka berkata : 'Betul ! kami menyaksikan.' ; Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat : 'Sungguh kami lalai dari perjanjian ini'. - Qs. 7 al-A'raf : 172

Secara kontekstual ayat ini memang mengesankan adanya dialog dua arah antara Allah dengan Nafs (atau dalam ayat ini disebut juga dengan istilah anfus) yang baru akan memasuki kehidupan duniawinya dirahim seorang ibu. Jika benar bahwa memang ada perjanjian dialam bawah sadar nun jauh diawal keberadaan kita dahulu kala, maka apakah perjanjian ini benar berupa dialog antara dua individu yang berbeda ataukah ayat ini hanya metafora yang dimaksudkan memberi penegasan terhadap hakekat kebenaran ilahiah ?

Kepastian akan hal ini memang menjadi teka-teki bagi kita karena bagaimanapun kerasnya upaya kita mengingat kemasa itu sangatlah mustahil, bahkan kita tidak pernah ingat bagaimana pengalaman kita saat didalam rahim ibu kita selama kurang lebih tujuh bulan pasca ditiupkan-Nya roh kedalam jasad kita yang masih berupa janin ?

Namun terlepas dari kemisteriusan itu, menarik bila kita juga mengkaji sebuah ayat yang lain yang menceritakan dialog yang terjadi antara Tuhan dengan langit saat pertama dibentuk.

Lalu Dia menuju langit yang masih berupa asap, dan Dia bertanya kepada langit dan bumi : 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan rela atau terpaksa ? ; Keduanya menjawab : 'Kami datang dengan rela !' - Qs. 41 Fushilat : 11

Ayat ini memiliki persamaan konteks dengan ayat penciptaan manusia yang sudah kita bahas sebelumnya. Diayat ini kita bisa melihat juga gambaran dialog dua arah bagaikan individu satu dengan individu lainnya antara Allah dengan langit maupun bumi yang jelas-jelas disebut masih berupa asap. Mungkinkah asap dapat berbicara ?

Kita kesampingkan dulu semua kemaha kuasaan Tuhan disini, kita coba untuk tidak mengkambinghitamkan kebesaran Allah yang bisa menjadikan semuanya dalam kejapan mata berlabel Kun Fayakun. Alam semesta dijadikan melalui tahapan-tahapan yang panjang, keberadaan manusia dibumi ini pun melalui suatu rentang sejarah jutaan tahun dan itupun bukan dengan satu paksaan melainkan proses yang terjadi secara alamiah dimana Adam melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah atas pengaruh setan.

Secara akal sehat asap tidak dapat berbicara, pun kalau asap bisa berbicara, bagaimana mungkin Allah memberi ultimatum layaknya seorang tukang todong yang bermaksud memeras harta korbannya melalui jalan damai tanpa kekerasan sampai pada penganiayaan jika sikorban menolak menyerahkannya suka rela ?

Begitupula manusia, tidak adil untuk manusia jika ia diajak berbicara bahkan bersumpah saat kesadaran lahiriahnya belum lagi timbul. Tidakkah bila kita mengajak anak yang masih berusia dibawah satu tahun berjanji tentang sesuatu yang dia tidak akan ingat manakala sudah dewasa adalah suatu perbuatan yang sia-sia ?

Memang kita tidak bisa menyamakan perbuatan Allah dengan perbuatan manusia, akan tetapi tidak bolehkah kita berpikir logis sesuai fitrah yang diberikan-Nya sendiri ? Menurut saya, ayat-ayat semacam ini tergolong kedalam ayat mutasyabihat yang perlu pendalaman dan pengkajian secara mendalam. Beberapa ayat al-Qur'an lainnya memberikan padanan yang serupa dengan dua ayat tersebut.

Kemudian setelah itu hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang terpancar daripadanya beberapa aliran air dan sebagiannya lagi ada yang terbelah dan keluar air dari dalamnya. Ada pula diantara bebatuan ini yang runtuh jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lalali dari apa yang kamu kerjakan. - Qs. 2 al-Baqarah : 74

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah, kepada-Nya beribadah seluruh apa yang ada dilangit dan dibumi termasuk burung yang mengembangkan sayapnya ? masing-masing mengetahui cara sholat dan memujinya, dan Allah sangat mengetahui apa yang mereka lakukan. - Qs. 24 an-Nur : 41

Dan tidakkah mereka lihat sesuatu yang dijadikan Allah yang bayangannya bergerak kekanan dan kekiri karena sujud kepada Allah sedangkan mereka itu berserah diri ?. - Qs. 16 an-Nahl : 48

Dan kepada Allah sajalah bersujud apa yang ada dilangit dan dibumi, dengan rela ataupun dengan terpaksa, termasuk bayangan mereka diwaktu pagi dan petang. - Qs. 13 ar-Ra'd : 15

Dengan kata lain, dialog yang terjadi antara Allah dan langit serta bumi, dialog yang terjadi antara Allah dengan Nafs manusia, sampai pada ibadahnya para burung, batu dan bayangan kepada Allah bisa kita lihat sebagai pernyataan Allah mengenai ketertundukan seluruh ciptaan-Nya, mulai dari benda mati sampai benda hidup kepada semua ketentuan hukum dan keesaan diri-Nya yang asasi, baik secara sadar maupun tidak disadarinya.

Terjadinya perputaran bumi pada porosnya, pergerakan awan, lempeng bumi dan pegunungan sampai pada proses pembuahan ovum oleh sperma adalah contoh dari ketertundukan terhadap hukum-hukum kausalita yang sudah ditetapkan Allah. Tidak akan ada lagi alasan bagi kita untuk mengingkari karya besar Tuhan dialam semesta termasuk didiri kita sendiri, karenanya bagaimana manusia sampai bisa berpaling dan menjadikan berhala dalam berbagai modelnya selaku Tuhan tandingan ?

Wassalam,

BEDA ROH & NAFS

BEDA ROH & NAFS

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Memang banyak sekali orang yang bercerita seolah-olah dia sangat mengerti mengenai roh, adapula ulama yang mungkin tanpa disadarinya telah keliru memberikan pengertian tentang roh kepada masyarakat, sehingga manakala ada yang kerasukan Jin maka dia telah disebut kemasukan roh halus, roh nenek moyangnya, roh gentayangan dan sebagainya sehingga kemurnian ajaran Islam sebagai agama fitrah semakin terpuruk, bercampur dengan mitos, tradisi maupun sisa-sisa kepercayaan yang masih mengakar kuat ditengah masyarakat. Belum lagi maraknya sinetron misteri ataupun reality show yang mengedepankan penampakan Jin dengan embel-embel agama. Padahal Allah sendiri didalam al-Qur’an telah berfirman :

Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh. Jawablah : ‘Roh itu masalah Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu mengenainya kecuali sedikit saja’ – Qs. 17 al-Israa : 85

Bahwa untuk bisa berbicara terlalu jauh dan detil mengenai roh rasanya sangatlah mustahil sebab Allah secara khusus sudah membatasi pengetahuan manusia mengenai hakekat roh, mungkin pembatasan ini diberikan karena sedemikian kompleks dan rumitnya permasalahan tersebut untuk bisa diterima oleh akal manusia sekalipun misalnya hal itu tetap bisa untuk dijabarkan. Hidup manusia yang nyata didunia adalah jauh lebih berguna dan lebih patut untuk mendapat perhatian ketimbang mengurusi masalah Roh ini.

Roh, meskipun tidak banyak yang bisa kita bicarakan namun al-Qur’an telah mengulang istilah ini sebanyak 24 kali dengan berbagai konteks dan makna namun uniknya semuanya itu merujuk pada sesuatu yang mulia, tinggi, bersih dan terhormat. Tidak pernah kita dapati istilah roh yang disiksa, mengikuti syahwatnya atau ternoda. Dalam penyebutannya juga al-Qur’an tidak melekatkan istilah roh sebagai milik suatu makhluk tertentu akan tetapi langsung dinisbatkan kepada Allah.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya roh-Ku; maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud – Qs. 15 al-Hijr : 29

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya roh-Nya, lalu Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati namun sedikit sekali dari kamu yang bersyukur – Qs. 32 as-Sajdah : 9

Sebuah jasad tanpa roh maka jasad itu akan mati, tidak mampu bergerak tidak kuasa untuk menarik nafas dan dalam hitungan jam tubuhnya akan kaku karena darah berhenti mengalir. Orang yang sedang tidur bukan berarti roh yang ada didalam jasadnya sedang keluar, sebab bila demikian adanya berarti saat dia tidur maka dia seharusnya mati dalam pengertian yang sesungguhnya tapi kenyataannya saat seseorang tertidur, dia masih bisa bergerak membalikkan badan, jantungnya masih berdenyut, mulutnya masih bisa mengeluarkan suara mendengkur dan malah tidak jarang orang yang tidurpun bisa tiba-tiba tertawa ataupun menangis bahkan buang air kecil tanpa disadarinya, semua ini mengindikasikan kepada kita bahwa tidur bukanlah suatu keadaan dimana roh meninggalkan badan.

Oleh karena itulah saat menceritakan kisah ashabul kahfi, al-Qur’an menyebut mereka bukan dalam keadaan mati dimana roh penghuni jasadnya dicabut Allah tetapi disebut bahwa mereka sedang tidur dan ciri bahwa mereka tidur adalah tubuh mereka bergerak berbalik-balik.

Dan kamu mengira mereka itu sadar padahal mereka tidur ; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka melunjurkan dua kaki depannya dipintu gua. ; Jika kamu melihat mereka niscaya kamu akan berpaling dan lari dengan penuh ketakutan terhadap mereka. – Qs. 18 al-Kahf : 18

Kejadian ashabul kahfi yang tidur selama 309 tahun ini mungkin bisa dihubungkan juga dengan teori relativitasnya Einstein seperti yang pernah kita bahas dalam pembicaraan Isra’ Mi’raj Nabi, dimana objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perlambatan waktu dengan objek yang memiliki kecepatan statis, tubuh para pemudia ashabul kahfi mungkin digetarkan oleh Allah molekul-molekulnya mendekati kecepatan cahaya sehingga tubuh mereka bergetar dan membalik-balik agar tahan terhadap perubahan waktu diluar gua yang berjalan lambat sehingga kita yang melihat mereka bagaikan melihat sinar yang berkilatan dan sesuai isi akhir ayat ini kejadian tersebut pasti akan membuat kita lari ketakutan; Bukti dari kebenaran teori ini adalah usia mereka ketika bangun sama seperti saat mereka tidur padahal waktu yang berjalan diluar gua sudah berlalu 309 tahun.

Dengan demikian roh itu bisa kita ibaratkan sebagai energi listrik yang mengisi baterai pada sebuah ponsel yang membuatnya bisa hidup dan mengadakan komunikasi secara wajar. Roh adalah energi kehidupan, dia adalah listrik pembangkit sumber daya bagi semua makhluk Allah. Manakala listrik ini mati, maka akan hilanglah kehidupan, meskipun perangkat televisi masih tetap ada, provider jaringan masih tetap eksis dan ponsel masih dalam keadaan layak pakai, tetapi tanpa keberadaan energi listrik yang mengisinya maka semua menjadi tidak berguna. Jasad yang masih muda, segar tanpa cacat tidak akan bisa melakukan aktifitas apapun walau hanya untuk menarik nafas dalam hitungan milidetik bila roh sudah meninggalkannya.

Allah mewafatkan nafs pada saat kematiannya, dan nafs orang-orang yang belum mati didalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) nafs yang sudah ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu - Qs. 39 az-Zumar : 42

Ayat diatas ini menceritakan seputar kekuasaan Allah terhadap diri manusia yang mampu membiarkan seseorang tetap hidup ataupun menentukan kapan dia harus mati. Menariknya ayat tersebut telah memperkenalkan istilah Nafs yang oleh sebagian besar ahli tafsir diterjemahkan dengan kata jiwa ataupun nyawa.

Inti ayat ini bahwa orang tidur pada dasarnya rohnya tetap ada, bisa dibuktikan dengan gerakan, igauan maupun helaan napas. Pada kondisi ini Nafs yang bersangkutan dibiarkan lepas kealam imajinasi, alam bawah sadar atau juga sebuah alam metafisika terlepas dari jasad phisiknya yang sedang berbaring untuk menjalani berbagai pengalaman melalui mimpi-mimpinya.; Bahkan kemampuan orang-orang yang melatih ilmu proyeksi astral (meraga sukma) tidak lain dari perbuatan yang dilakukan dalam rangka melepaskan Nafsnya dari tubuh kasarnya.

Sebaliknya Nafs yang sudah diwafatkan oleh Allah berarti Nafs yang bersangkutan sudah ditahan oleh Allah untuk tidak dapat lagi melakukan petualangan dialam bawah sadar melalui mimpi-mimpinya maupun juga melalui proyeksi astral secara sengaja. Proses pembatasan Nafs ini ditandai dengan dihilangkannya roh yang berfungsi membangkitkan kehidupan bagi jasad dan Nafs.

Karena itulah kita tegaskan lagi bahwa dongeng arwah gentayangan maupun roh penasaran tidaklah bisa dibenarkan, semua itu hanyalah tipu muslihat dari Jin yang sudah menjadi bawahan Iblis. Semua suara yang keluar dari benda mati, suara tanpa wujud sampai pada fenomena penampakan tidak lebih dari perbuatan setan yang ingin menyesatkan pemahaman manusia dari jalan Tuhannya.


Orang yang sudah wafat selamanya tidak akan pernah bisa kembali dalam kehidupan nyata didunia, masanya untuk berkiprah melangsungkan kegiatan duniawi sudah berakhir, roh suci yang menjadi energi pembangkit kehidupan sudah hilang kembali kepada Allah. Tanpa roh, nafs tidak akan mampu menggerakkan jasadnya, tanpa roh nafs akan menjadi terhalang kembali kealam duniawi.

Jika Nafs mampu bergentayangan selepas kematian jasadnya, tentu keseimbangan alam semesta ini akan rusak binasa, jutaan nafs yang kehilangan tubuh materilnya dari jaman kejaman akan berebut merasuki semua tubuh makhluk hidup dan mengusir nafs yang menghuni jasad tersebut. Sungguh akan menjadi lelucon paling lucu yang pernah ada. Oleh sebab itu, Islam tidak mengenal istilah reinkarnasi maupun penitisan sebagaimana yang bisa dijumpai pada beberapa agama bumi. Kitab suci al-Qur’an jelas mengatakan bahwa antara orang yang sudah wafat dengan orang yang masih hidup didunia ini tidak akan bisa saling mencampuri lagi karena diantara mereka ada batasan yang disebut barzakh.

Hingga apabila datang maut kepada seseorang dari mereka, ia berkata : Ya Tuhanku ... kembalikanlah aku kedunia, supaya aku berbuat baik dalam urusan yang telah aku sia-siakan sebelumnya.; Tidak sekali-kali !!! Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja, padahal diantara mereka (dan dunia) ada dinding (barzakh) sampai mereka dibangkitkan. -- Qs. 23 al-Mu’minun : 99 – 100

Ruh selamanya akan tetap suci tak bernoda, sebaliknya Nafs kitalah yang kelak akan mempertanggung jawabkan semua kelakuannya semasa hidup hingga kematian menjemput dihadapan Allah dihari akhir.

Wahai, Nafs yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridho dan diridhoi; bergabunglah kedalam kelompok hamba-hambaKu lalu masuklah kedalam syurga-Ku - Qs. 89 al-Fajr : 27-30

Dan Nafs serta yang menyempurnakannya, lalu mengilhamkan kepadanya jalan kesesatan dan jalan kebenaran; maka berbahagialah orang yang membersihkan (Nafs) tersebut serta celakalah orang yang mengotorinya. - Qs. 91 asy-Syams : 7-10

Wassalam,

KISAH ADAM

KISAH ADAM

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Berdasarkan kajian seputar peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebelumnya, maka disini penulis berpendapat bahwa Adam dan istrinya memang tidak berasal dari planet bumi yang kita diami ini. Saat Allah hendak menjadikan manusia sebagaii Khalifah dibumi, malaikat mengajukan pertanyaan kepada-Nya dengan menyatakan bahwa manusia hanya akan menumpahkan darah saja nantinya.

Hal ini cukup mengherankan bagi kita, dari mana para Malaikat itu tahu mengenai hal ini, padahal saat itu manusia belum lagi diciptakan Tuhan ? Jawaban yang paling masuk akal adalah bahwa sebelum itu sudah pernah ada generasi manusia-manusia yang memiliki beberapa perbedaan struktural phisik dengan kita; dan selama kurun waktu yang ada, mereka hanya sibuk berperang dan saling membunuh.

Jika tiba-tiba Tuhan menyebutkan Dia ingin menciptakan manusia jenis baru untuk menjadi Khalifah yang bertugas sebagai pengatur pemberdayaan sumber alam dibumi, tentunya ini bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dikenal oleh para malaikat itu sebelumnya. Tetapi Allah menegaskan, Dia lebih mengetahui apa yang Dia inginkan dan Dia rencanakan.

Ingatlah, saat Tuhanmu berkata kepada para malaikat : ‘Aku bermaksud untuk menjadikan seorang khalifah dibumi !’ ; Mereka bertanya : ‘Kenapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan didalamnya dan menumpahkan darah ? ;

Padahal kami selalu bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ? ; Dia menjawab : ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa saja yang tidak kamu ketahui.’ – Qs. 2 al-Baqarah : 30

Dari ilmu sejarah modern yang data-datanya diperoleh berdasar hasil penemuan arkeologi terkni kita bisa mengetahui bahwa bumi ini sudah diisi oleh makhluk sejenis manusia sejak lebih kurang 50.000 tahun yang lalu, akan tetapi manusia-manusia tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dengan manusia modern yang disebut sebagai Homo Sapiens.

Beberapa contohnya seperti Homo Erektus yang fosilnya ditemukan di Trinil (Ngawi) tahun 1894 oleh Dr. Dubois, kemudian Homo Sapiens Reanderthalensis yang ditemukan dilembah Neanderthal pada tahun 1896, Cro-Magnon dan sebagainya.

Homo Sapiens Reanderthalensis misalnya memiliki wajah sangat menyeramkan, bertubuh pendek, tidak berdagu dan menonjol diatas matanya.

Saya berpendapat, manusia-manusia purba non Homo Sapiens inilah contoh kasus yang pernah disaksikan oleh para malaikat dan diajukan mereka sebagai bukti kepada Allah saat Dia hendak menciptakan manusia baru sebagai khalifah-Nya dibumi ini.

Dalam pemeriksaan arkeologi terhadap 41 lokasi yang berusia antara 1,8 juta hingga 10.000 tahun, Todd Surovell dari Universitas Wyoming menemukan bahwa hubungan antara manusia purba dengan gajah cocok dengan gelombang ekspansi populasi manusia.

Artinya, seiring dengan tumbuhnya populasi manusia di suatu tempat, maka jumlah gajah turun - pada beberapa kasus bahkan lenyap. Temuan tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa ekspansi geografis manusia purba mengakibatkan kepunahan lokal gajah. Berlebihnya perburuan mungkin menjadi penyebab utama hal ini, kata Surovell, namun pemecahan populasi dianggap membuat kondisi makin parah (sumber : Kompas Cyber Media, http://www.kompas.com/teknologi/news/0504/20/160606.htm, dalam rubrik Sains & Teknologi, Manusia purba ikut melenyapkan populasi gajah)

Jamal al-Nasir, Stories of The Prophets (www.DivineIslam.co.uk/DivineIslam/software/Prophets_Stories/) dalam komentarnya mengenai Adam dalam The Prophets of Almighty Allah, bahwa Ibn Qatadah dan Abdullah Ibn Umar menyatakan bahwa sebelum Allah menjadikan Adam dibumi ini, sudah ada penduduknya yang berasal dari kalangan Jin. Akan tetapi apa yang disampaikan oleh keduanya ini bukanlah perkataan langsung dari Nabi sendiri, bisa saja ini merupakan tafsir mereka mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang Adam.

Untuk itu kita juga harus melakukan analisa dari hasil penemuan arkeologi modern seputar fosil-fosil manusia purba dan mencocokkannya dengan informasi yang disampaikan oleh al-Qur’an. Jika memang baru pada penciptaan Adam sajalah bumi ini dihuni oleh manusia, bagaimana kita menghubungkan Adam yang menurut al-Qur’an memiliki ilmu pengetahuan melebihi malaikat dengan manusia purba yang masih berkutat dengan jaman batunya ?

Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama, lalu mengemukakannya kepada para malaikat dan Dia berfirman :

‘Jelaskanlah nama-nama benda itu kepada-Ku bila memang kalian orang-orang yang benar ?’ ; Mereka menjawab:’Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami’ ; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. – Qs. 2 al-Baqarah : 31-32


Memang al-Qur’an ada memberikan informasi bahwa Jin diciptakan lebih dahulu dari manusia namun konteksnya pada ayat tersebut hanya urutan penciptaan bukan dalam hal penempatan dibumi. Apalagi ayat al-Qur’an menceritakan dimana Jin dengan pemimpinnya yang bernama Iblis masih berada di Jannah saat Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam, dan mereka baru keluar setelah diusir oleh Allah atas tindakan pembangkangan yang mereka lakukan.

Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum Adam dari api yang sangat panas – Qs. 15 al-Hijr : 27

Tuhan berfirman : turunlah kamu dari sana, sebab tidak sepantasnya kamu berlaku sombong didalamnya; sungguh kamu termasuk kaum yang hina – Qs. 7 al-a’raaf : 13

Kehendak Allah untuk menjadikan Adam selaku manusia pengganti generasi sebelumnya dibumi kita ini dicetuskan kepada para Malaikat-Nya, dan apa yang dilakukan oleh Iblis dengan godaannya terhadap Adam justru sebagai alat yang menjadi sebab peristiwa penurunan Adam dari Jannah menjadi nyata dan inilah yang sebenarnya menjadi pertanda kesiapan Adam untuk memulai misi utamanya diplanet bumi kita.

Polemik pohon terlarang pada kisah Adam yang tercantum dalam al-Qur’an, telah mengundang perdebatan tiada henti dikalangan agamawan tradisional hingga ulama modern dan liberal sekarang ini. Berbagai pendapat telah menghiasi lembaran-lembaran halaman buku guna menyibak misteri pohon tersebut, mulai dari yang menyatakan bahwa pohon ini terdapat disurga yang berbeda dengan surganya orang-orang beriman kelak dihari kiamat hingga penafsiran pohon tersebut tidak lebih dari sekedar simbolitas kepatuhan dan keserakahan nafsu manusiawi Adam sudah menambah khasanah pengetahuan Islam.

Menarik bila kita melihat pendapat Nazwar Syamsu yang menggambarkan pohon larangan ini sebagai sebuah larangan persetubuhan Adam atas diri istrinya yang konon disebut-sebut bernama Hawa. (sumber : Nazwar Syamsu, Tauhid dan Logika, al-Qur’an tentang al-Insan, Ghalia Indonesia, Jakarta, Januari, 1983, hal. 201)

Disini Beliau menyebutkan bahwa arti kata Syajarah tidaklah harus diterjemahkan sebagai Pohon, namun bisa dianalogikan dengan pertumbuhan atau perkembangbiakan.

Nazwar Syamsu juga mengkritik para penafsir Qur’an yang hanya memakai kamus bahasa Arab tradisional yang disusun berdasarkan pengetahuan dan peradaban sesuai jaman yang berlaku kala itu, padahal menurutnya al-Qur’an harus bisa dipahami dan diterjemahkan kedalam konteks dunia modern dan seyogyanya pola penafsiran kitab sucipun harus mengalami perkembangan.

Uniknya, Nazwar Syamsu bukanlah orang pertama yang memberikan penafsiran kata Syajaratu sebagai larangan melakukan hubungan seksual antara Adam dan istinya, Dr. M. Quraish Shihab menulis dalam salah satu bukunya (yaitu Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, Oktober 1992, hal 98) bahwa jauh sebelum itu, Dr. Mustafa Mahmud juga memberikan penafsiran yang serupa.

Bagi penulis sendiri, baik Nazwar Syamsu maupun Mustafa Mahmud sekalipun tafsir keduanya dianggap telah menyalahi kaidah bahasa yang berlaku, namun pendapat mereka bisa kita pahami secara global dengan menghubungkan semua rangkaian cerita yang ada seputar Adam didalam al-Qur’an.

Dan Kami katakan : Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu dan makanlah daripadanya sepuas apa yang engkau kehendaki, dan janganlah mendekati Syajarah ini, jika itu kamu lakukan maka kamu akan termasuk orang yang zalim. – Qs. 2 al-Baqarah : 35

Hai Adam ! Tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu, makanlah yang mana saja engkau sukai, dan janganlah mendekati Syajarah ini, maka kamu akan termasuk orang zalim. – Qs. 7 al-A’raaf : 19

Setan menggoda keduanya dengan bujuk-rayu, maka ketika keduanya merasakan Syajarah tersebut, tampaklah bagi keduanya tubuh mereka masing-masing, lalu segera menutupi diri dengan daun-daun Jannah. Dan Tuhan mereka menyeru kepada mereka : ‘Bukankah Aku mencegah kamu seputar Syajarah ? Dan telah Aku peringatkan kalian bahwa setan itu merupakan musuh yang nyata bagimu ! – Qs. al-A’raaf : 22

Sejak semula, Allah bermaksud menjadikan manusia modern atau Homo Sapiens bernama Adam sebagai Khalifah atau manusia baru menggantikan manusia generasi sebelumnya diplanet bumi kita ini. Rencana Allah yang diungkapkan didalam al-Qur’an ini tidaklah dimulai dari bumi ini sendiri, melainkan berada di Jannah, diseputar Sidratul Muntaha yang berlokasi diufuk yang tinggi.

Sebagai pertanda telah tibanya waktu penugasan Adam tersebut akan disertai oleh kemandirian dan kedewasaannya selaku manusia paripurna. Kedewasaan dan kemandirian seorang laki-laki pada umumnya mulai tampak sewaktu dia sudah berpikir untuk melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita. Disini secara bijaksana kita bisa melihat bahwa larangan Allah hanya bersifat temporari atau sementara, dan ini juga bentuk ujian pertama kepada Adam.

Jannah yang ada di Muntaha bukan tempat permanen bagi hidup Adam dan generasinya sebab Allah telah menentukan Bumi inilah tempat berdomisili Adam dan semua keturunannya, karena itu naluri meneruskan keturunan disana tidak akan sesuai dengan kehendak Allah.

Meskipun demikian, Allah tidak ingin rencana-Nya menjadikan Adam Khalifah dibumi berjalan melalui paksaan, karena itu Allah sebelumnya telah memberi pengarahan kepada Adam dan istrinya agar tidak mendekati perbuatan tersebut, namun manakala Adam akhirnya melanggar dengan perantaraan setan, Allah tidak serta merta memutuskan tali kasih-Nya dengan menjadikan perbuatan tersebut sebagai dosa yang menurun kepada anak-anak Adam, Allah hanya menilai Adam telah lalai dari seruan-Nya dan Dia memaafkannya.

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, namun ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat
– Qs. 20 Thaha : 115

Saat Adam dan istrinya terpedaya oleh setan dengan melakukan perbuatan yang sudah dilarang Allah ini, mereka tersentak kaget dan langsung ingat bahwa mereka sudah melakukan sebuah kesalahan. Karena itu al-Qur’an melukiskan Adam dan istrinya dengan sigap mengambil daun-daun yang ada didalam Jannah tersebut guna menutupi aurat masing-masing karena rasa malunya dan langsung memohon ampunan.

Keduanya berkata : Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak memberi ampunan serta rahmat kepada kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang selalu merugi. - Qs. 7 al-A’raaf : 23

Lalu Tuhannya memilihnya dan Dia menerima tobatnya dan memberikan petunjuk – Qs. 20 Thaha : 122

Allah maha bijaksana, seluruh hukum dan ketetapan yang terjadi pada makhluk-makhlukNya berjalan sesuai rencana dan terjadi dengan logis, tanpa mengabaikan hukum sebab akibat. Isyarat bahwa Adam harus segera memulai tugas barunya memakmurkan bumi, menggantikan manusia purba sudah tiba.

Ini bukan hukuman dari Allah, tetapi justru suatu rahmat dan kehormatan bagi manusia yang sudah terpilih menjadi wakil Allah dibumi. Karena itu konsep dosa turunan tidak pernah dikenal didalam ajaran Islam.

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari Jannah itu dan keluar dari keadaannya semula, lalu Kami berfirman :

“Turunlah kalian ! sebagian dari kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kalian ada tempat kediaman dibumi serta kesenangan hidup sampai batas waktu yang sudah ditentukan.” – Qs. 2 al-Baqarah : 36

Istilah IHBITU atau turunlah adalah kalimah perintah, dan ini memiliki arti turun dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah, seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti pindah dari satu tempat kesatu tempat yang lain. Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur'an pada turunnya Nabi Nuh dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain sebagainya.

Bagaimana dan dengan cara apa Adam diturunkan kebumi ini memang tidak dijelaskan lagi oleh Allah didalam al-Qur’an, namun bisa saja hal yang sama seperti kejadian pada Nabi Yehezkiel dan Nabi Muhammad juga terjadi pada diri Adam dan istrinya. Artinya, Adam dan istrinya diberangkatkan dari Jannah kebumi ini dengan suatu kendaraan antariksa sejenis Buraq.

Ketika mereka tiba diplanet bumi kita ini, kendaraan mereka itu dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan istrinya untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan).

Mereka didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan istrinya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah.

Hal ini dapat kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan dibumi dari Jannah sehingga menurut salah satu riwayat berjarak sekitar 200 tahunan (sumber : Drs. H. Abujamin Roham, Aku Pergi Haji, Penerbit Media Da’wah, Jakarta, 1994, hal 134).

Mungkin kita menganggapnya tidak masuk akal, namun kita bisa mengkorelasikan kejadian ini dengan usia Nabi Nuh yang menurut al-Qur’an lamanya beliau tinggal bersama umatnya 950 tahun.(Lihat surah 29 al-‘Ankabut : 14) Juga usia ashabul Kahfi ketika tertidur didalam gua selama 309 tahun.(Lihat surah 18 al-Kahfi : 25)


Wassalam,