Kamis, 28 Juli 2011

BEDA ROH & NAFS

BEDA ROH & NAFS

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Memang banyak sekali orang yang bercerita seolah-olah dia sangat mengerti mengenai roh, adapula ulama yang mungkin tanpa disadarinya telah keliru memberikan pengertian tentang roh kepada masyarakat, sehingga manakala ada yang kerasukan Jin maka dia telah disebut kemasukan roh halus, roh nenek moyangnya, roh gentayangan dan sebagainya sehingga kemurnian ajaran Islam sebagai agama fitrah semakin terpuruk, bercampur dengan mitos, tradisi maupun sisa-sisa kepercayaan yang masih mengakar kuat ditengah masyarakat. Belum lagi maraknya sinetron misteri ataupun reality show yang mengedepankan penampakan Jin dengan embel-embel agama. Padahal Allah sendiri didalam al-Qur’an telah berfirman :

Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh. Jawablah : ‘Roh itu masalah Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu mengenainya kecuali sedikit saja’ – Qs. 17 al-Israa : 85

Bahwa untuk bisa berbicara terlalu jauh dan detil mengenai roh rasanya sangatlah mustahil sebab Allah secara khusus sudah membatasi pengetahuan manusia mengenai hakekat roh, mungkin pembatasan ini diberikan karena sedemikian kompleks dan rumitnya permasalahan tersebut untuk bisa diterima oleh akal manusia sekalipun misalnya hal itu tetap bisa untuk dijabarkan. Hidup manusia yang nyata didunia adalah jauh lebih berguna dan lebih patut untuk mendapat perhatian ketimbang mengurusi masalah Roh ini.

Roh, meskipun tidak banyak yang bisa kita bicarakan namun al-Qur’an telah mengulang istilah ini sebanyak 24 kali dengan berbagai konteks dan makna namun uniknya semuanya itu merujuk pada sesuatu yang mulia, tinggi, bersih dan terhormat. Tidak pernah kita dapati istilah roh yang disiksa, mengikuti syahwatnya atau ternoda. Dalam penyebutannya juga al-Qur’an tidak melekatkan istilah roh sebagai milik suatu makhluk tertentu akan tetapi langsung dinisbatkan kepada Allah.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya roh-Ku; maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud – Qs. 15 al-Hijr : 29

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya roh-Nya, lalu Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati namun sedikit sekali dari kamu yang bersyukur – Qs. 32 as-Sajdah : 9

Sebuah jasad tanpa roh maka jasad itu akan mati, tidak mampu bergerak tidak kuasa untuk menarik nafas dan dalam hitungan jam tubuhnya akan kaku karena darah berhenti mengalir. Orang yang sedang tidur bukan berarti roh yang ada didalam jasadnya sedang keluar, sebab bila demikian adanya berarti saat dia tidur maka dia seharusnya mati dalam pengertian yang sesungguhnya tapi kenyataannya saat seseorang tertidur, dia masih bisa bergerak membalikkan badan, jantungnya masih berdenyut, mulutnya masih bisa mengeluarkan suara mendengkur dan malah tidak jarang orang yang tidurpun bisa tiba-tiba tertawa ataupun menangis bahkan buang air kecil tanpa disadarinya, semua ini mengindikasikan kepada kita bahwa tidur bukanlah suatu keadaan dimana roh meninggalkan badan.

Oleh karena itulah saat menceritakan kisah ashabul kahfi, al-Qur’an menyebut mereka bukan dalam keadaan mati dimana roh penghuni jasadnya dicabut Allah tetapi disebut bahwa mereka sedang tidur dan ciri bahwa mereka tidur adalah tubuh mereka bergerak berbalik-balik.

Dan kamu mengira mereka itu sadar padahal mereka tidur ; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka melunjurkan dua kaki depannya dipintu gua. ; Jika kamu melihat mereka niscaya kamu akan berpaling dan lari dengan penuh ketakutan terhadap mereka. – Qs. 18 al-Kahf : 18

Kejadian ashabul kahfi yang tidur selama 309 tahun ini mungkin bisa dihubungkan juga dengan teori relativitasnya Einstein seperti yang pernah kita bahas dalam pembicaraan Isra’ Mi’raj Nabi, dimana objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perlambatan waktu dengan objek yang memiliki kecepatan statis, tubuh para pemudia ashabul kahfi mungkin digetarkan oleh Allah molekul-molekulnya mendekati kecepatan cahaya sehingga tubuh mereka bergetar dan membalik-balik agar tahan terhadap perubahan waktu diluar gua yang berjalan lambat sehingga kita yang melihat mereka bagaikan melihat sinar yang berkilatan dan sesuai isi akhir ayat ini kejadian tersebut pasti akan membuat kita lari ketakutan; Bukti dari kebenaran teori ini adalah usia mereka ketika bangun sama seperti saat mereka tidur padahal waktu yang berjalan diluar gua sudah berlalu 309 tahun.

Dengan demikian roh itu bisa kita ibaratkan sebagai energi listrik yang mengisi baterai pada sebuah ponsel yang membuatnya bisa hidup dan mengadakan komunikasi secara wajar. Roh adalah energi kehidupan, dia adalah listrik pembangkit sumber daya bagi semua makhluk Allah. Manakala listrik ini mati, maka akan hilanglah kehidupan, meskipun perangkat televisi masih tetap ada, provider jaringan masih tetap eksis dan ponsel masih dalam keadaan layak pakai, tetapi tanpa keberadaan energi listrik yang mengisinya maka semua menjadi tidak berguna. Jasad yang masih muda, segar tanpa cacat tidak akan bisa melakukan aktifitas apapun walau hanya untuk menarik nafas dalam hitungan milidetik bila roh sudah meninggalkannya.

Allah mewafatkan nafs pada saat kematiannya, dan nafs orang-orang yang belum mati didalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) nafs yang sudah ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu - Qs. 39 az-Zumar : 42

Ayat diatas ini menceritakan seputar kekuasaan Allah terhadap diri manusia yang mampu membiarkan seseorang tetap hidup ataupun menentukan kapan dia harus mati. Menariknya ayat tersebut telah memperkenalkan istilah Nafs yang oleh sebagian besar ahli tafsir diterjemahkan dengan kata jiwa ataupun nyawa.

Inti ayat ini bahwa orang tidur pada dasarnya rohnya tetap ada, bisa dibuktikan dengan gerakan, igauan maupun helaan napas. Pada kondisi ini Nafs yang bersangkutan dibiarkan lepas kealam imajinasi, alam bawah sadar atau juga sebuah alam metafisika terlepas dari jasad phisiknya yang sedang berbaring untuk menjalani berbagai pengalaman melalui mimpi-mimpinya.; Bahkan kemampuan orang-orang yang melatih ilmu proyeksi astral (meraga sukma) tidak lain dari perbuatan yang dilakukan dalam rangka melepaskan Nafsnya dari tubuh kasarnya.

Sebaliknya Nafs yang sudah diwafatkan oleh Allah berarti Nafs yang bersangkutan sudah ditahan oleh Allah untuk tidak dapat lagi melakukan petualangan dialam bawah sadar melalui mimpi-mimpinya maupun juga melalui proyeksi astral secara sengaja. Proses pembatasan Nafs ini ditandai dengan dihilangkannya roh yang berfungsi membangkitkan kehidupan bagi jasad dan Nafs.

Karena itulah kita tegaskan lagi bahwa dongeng arwah gentayangan maupun roh penasaran tidaklah bisa dibenarkan, semua itu hanyalah tipu muslihat dari Jin yang sudah menjadi bawahan Iblis. Semua suara yang keluar dari benda mati, suara tanpa wujud sampai pada fenomena penampakan tidak lebih dari perbuatan setan yang ingin menyesatkan pemahaman manusia dari jalan Tuhannya.


Orang yang sudah wafat selamanya tidak akan pernah bisa kembali dalam kehidupan nyata didunia, masanya untuk berkiprah melangsungkan kegiatan duniawi sudah berakhir, roh suci yang menjadi energi pembangkit kehidupan sudah hilang kembali kepada Allah. Tanpa roh, nafs tidak akan mampu menggerakkan jasadnya, tanpa roh nafs akan menjadi terhalang kembali kealam duniawi.

Jika Nafs mampu bergentayangan selepas kematian jasadnya, tentu keseimbangan alam semesta ini akan rusak binasa, jutaan nafs yang kehilangan tubuh materilnya dari jaman kejaman akan berebut merasuki semua tubuh makhluk hidup dan mengusir nafs yang menghuni jasad tersebut. Sungguh akan menjadi lelucon paling lucu yang pernah ada. Oleh sebab itu, Islam tidak mengenal istilah reinkarnasi maupun penitisan sebagaimana yang bisa dijumpai pada beberapa agama bumi. Kitab suci al-Qur’an jelas mengatakan bahwa antara orang yang sudah wafat dengan orang yang masih hidup didunia ini tidak akan bisa saling mencampuri lagi karena diantara mereka ada batasan yang disebut barzakh.

Hingga apabila datang maut kepada seseorang dari mereka, ia berkata : Ya Tuhanku ... kembalikanlah aku kedunia, supaya aku berbuat baik dalam urusan yang telah aku sia-siakan sebelumnya.; Tidak sekali-kali !!! Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja, padahal diantara mereka (dan dunia) ada dinding (barzakh) sampai mereka dibangkitkan. -- Qs. 23 al-Mu’minun : 99 – 100

Ruh selamanya akan tetap suci tak bernoda, sebaliknya Nafs kitalah yang kelak akan mempertanggung jawabkan semua kelakuannya semasa hidup hingga kematian menjemput dihadapan Allah dihari akhir.

Wahai, Nafs yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridho dan diridhoi; bergabunglah kedalam kelompok hamba-hambaKu lalu masuklah kedalam syurga-Ku - Qs. 89 al-Fajr : 27-30

Dan Nafs serta yang menyempurnakannya, lalu mengilhamkan kepadanya jalan kesesatan dan jalan kebenaran; maka berbahagialah orang yang membersihkan (Nafs) tersebut serta celakalah orang yang mengotorinya. - Qs. 91 asy-Syams : 7-10

Wassalam,

KISAH ADAM

KISAH ADAM

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Berdasarkan kajian seputar peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebelumnya, maka disini penulis berpendapat bahwa Adam dan istrinya memang tidak berasal dari planet bumi yang kita diami ini. Saat Allah hendak menjadikan manusia sebagaii Khalifah dibumi, malaikat mengajukan pertanyaan kepada-Nya dengan menyatakan bahwa manusia hanya akan menumpahkan darah saja nantinya.

Hal ini cukup mengherankan bagi kita, dari mana para Malaikat itu tahu mengenai hal ini, padahal saat itu manusia belum lagi diciptakan Tuhan ? Jawaban yang paling masuk akal adalah bahwa sebelum itu sudah pernah ada generasi manusia-manusia yang memiliki beberapa perbedaan struktural phisik dengan kita; dan selama kurun waktu yang ada, mereka hanya sibuk berperang dan saling membunuh.

Jika tiba-tiba Tuhan menyebutkan Dia ingin menciptakan manusia jenis baru untuk menjadi Khalifah yang bertugas sebagai pengatur pemberdayaan sumber alam dibumi, tentunya ini bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dikenal oleh para malaikat itu sebelumnya. Tetapi Allah menegaskan, Dia lebih mengetahui apa yang Dia inginkan dan Dia rencanakan.

Ingatlah, saat Tuhanmu berkata kepada para malaikat : ‘Aku bermaksud untuk menjadikan seorang khalifah dibumi !’ ; Mereka bertanya : ‘Kenapa Engkau hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan didalamnya dan menumpahkan darah ? ;

Padahal kami selalu bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ? ; Dia menjawab : ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa saja yang tidak kamu ketahui.’ – Qs. 2 al-Baqarah : 30

Dari ilmu sejarah modern yang data-datanya diperoleh berdasar hasil penemuan arkeologi terkni kita bisa mengetahui bahwa bumi ini sudah diisi oleh makhluk sejenis manusia sejak lebih kurang 50.000 tahun yang lalu, akan tetapi manusia-manusia tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dengan manusia modern yang disebut sebagai Homo Sapiens.

Beberapa contohnya seperti Homo Erektus yang fosilnya ditemukan di Trinil (Ngawi) tahun 1894 oleh Dr. Dubois, kemudian Homo Sapiens Reanderthalensis yang ditemukan dilembah Neanderthal pada tahun 1896, Cro-Magnon dan sebagainya.

Homo Sapiens Reanderthalensis misalnya memiliki wajah sangat menyeramkan, bertubuh pendek, tidak berdagu dan menonjol diatas matanya.

Saya berpendapat, manusia-manusia purba non Homo Sapiens inilah contoh kasus yang pernah disaksikan oleh para malaikat dan diajukan mereka sebagai bukti kepada Allah saat Dia hendak menciptakan manusia baru sebagai khalifah-Nya dibumi ini.

Dalam pemeriksaan arkeologi terhadap 41 lokasi yang berusia antara 1,8 juta hingga 10.000 tahun, Todd Surovell dari Universitas Wyoming menemukan bahwa hubungan antara manusia purba dengan gajah cocok dengan gelombang ekspansi populasi manusia.

Artinya, seiring dengan tumbuhnya populasi manusia di suatu tempat, maka jumlah gajah turun - pada beberapa kasus bahkan lenyap. Temuan tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa ekspansi geografis manusia purba mengakibatkan kepunahan lokal gajah. Berlebihnya perburuan mungkin menjadi penyebab utama hal ini, kata Surovell, namun pemecahan populasi dianggap membuat kondisi makin parah (sumber : Kompas Cyber Media, http://www.kompas.com/teknologi/news/0504/20/160606.htm, dalam rubrik Sains & Teknologi, Manusia purba ikut melenyapkan populasi gajah)

Jamal al-Nasir, Stories of The Prophets (www.DivineIslam.co.uk/DivineIslam/software/Prophets_Stories/) dalam komentarnya mengenai Adam dalam The Prophets of Almighty Allah, bahwa Ibn Qatadah dan Abdullah Ibn Umar menyatakan bahwa sebelum Allah menjadikan Adam dibumi ini, sudah ada penduduknya yang berasal dari kalangan Jin. Akan tetapi apa yang disampaikan oleh keduanya ini bukanlah perkataan langsung dari Nabi sendiri, bisa saja ini merupakan tafsir mereka mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang Adam.

Untuk itu kita juga harus melakukan analisa dari hasil penemuan arkeologi modern seputar fosil-fosil manusia purba dan mencocokkannya dengan informasi yang disampaikan oleh al-Qur’an. Jika memang baru pada penciptaan Adam sajalah bumi ini dihuni oleh manusia, bagaimana kita menghubungkan Adam yang menurut al-Qur’an memiliki ilmu pengetahuan melebihi malaikat dengan manusia purba yang masih berkutat dengan jaman batunya ?

Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama, lalu mengemukakannya kepada para malaikat dan Dia berfirman :

‘Jelaskanlah nama-nama benda itu kepada-Ku bila memang kalian orang-orang yang benar ?’ ; Mereka menjawab:’Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami’ ; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. – Qs. 2 al-Baqarah : 31-32


Memang al-Qur’an ada memberikan informasi bahwa Jin diciptakan lebih dahulu dari manusia namun konteksnya pada ayat tersebut hanya urutan penciptaan bukan dalam hal penempatan dibumi. Apalagi ayat al-Qur’an menceritakan dimana Jin dengan pemimpinnya yang bernama Iblis masih berada di Jannah saat Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam, dan mereka baru keluar setelah diusir oleh Allah atas tindakan pembangkangan yang mereka lakukan.

Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum Adam dari api yang sangat panas – Qs. 15 al-Hijr : 27

Tuhan berfirman : turunlah kamu dari sana, sebab tidak sepantasnya kamu berlaku sombong didalamnya; sungguh kamu termasuk kaum yang hina – Qs. 7 al-a’raaf : 13

Kehendak Allah untuk menjadikan Adam selaku manusia pengganti generasi sebelumnya dibumi kita ini dicetuskan kepada para Malaikat-Nya, dan apa yang dilakukan oleh Iblis dengan godaannya terhadap Adam justru sebagai alat yang menjadi sebab peristiwa penurunan Adam dari Jannah menjadi nyata dan inilah yang sebenarnya menjadi pertanda kesiapan Adam untuk memulai misi utamanya diplanet bumi kita.

Polemik pohon terlarang pada kisah Adam yang tercantum dalam al-Qur’an, telah mengundang perdebatan tiada henti dikalangan agamawan tradisional hingga ulama modern dan liberal sekarang ini. Berbagai pendapat telah menghiasi lembaran-lembaran halaman buku guna menyibak misteri pohon tersebut, mulai dari yang menyatakan bahwa pohon ini terdapat disurga yang berbeda dengan surganya orang-orang beriman kelak dihari kiamat hingga penafsiran pohon tersebut tidak lebih dari sekedar simbolitas kepatuhan dan keserakahan nafsu manusiawi Adam sudah menambah khasanah pengetahuan Islam.

Menarik bila kita melihat pendapat Nazwar Syamsu yang menggambarkan pohon larangan ini sebagai sebuah larangan persetubuhan Adam atas diri istrinya yang konon disebut-sebut bernama Hawa. (sumber : Nazwar Syamsu, Tauhid dan Logika, al-Qur’an tentang al-Insan, Ghalia Indonesia, Jakarta, Januari, 1983, hal. 201)

Disini Beliau menyebutkan bahwa arti kata Syajarah tidaklah harus diterjemahkan sebagai Pohon, namun bisa dianalogikan dengan pertumbuhan atau perkembangbiakan.

Nazwar Syamsu juga mengkritik para penafsir Qur’an yang hanya memakai kamus bahasa Arab tradisional yang disusun berdasarkan pengetahuan dan peradaban sesuai jaman yang berlaku kala itu, padahal menurutnya al-Qur’an harus bisa dipahami dan diterjemahkan kedalam konteks dunia modern dan seyogyanya pola penafsiran kitab sucipun harus mengalami perkembangan.

Uniknya, Nazwar Syamsu bukanlah orang pertama yang memberikan penafsiran kata Syajaratu sebagai larangan melakukan hubungan seksual antara Adam dan istinya, Dr. M. Quraish Shihab menulis dalam salah satu bukunya (yaitu Membumikan al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung, Oktober 1992, hal 98) bahwa jauh sebelum itu, Dr. Mustafa Mahmud juga memberikan penafsiran yang serupa.

Bagi penulis sendiri, baik Nazwar Syamsu maupun Mustafa Mahmud sekalipun tafsir keduanya dianggap telah menyalahi kaidah bahasa yang berlaku, namun pendapat mereka bisa kita pahami secara global dengan menghubungkan semua rangkaian cerita yang ada seputar Adam didalam al-Qur’an.

Dan Kami katakan : Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu dan makanlah daripadanya sepuas apa yang engkau kehendaki, dan janganlah mendekati Syajarah ini, jika itu kamu lakukan maka kamu akan termasuk orang yang zalim. – Qs. 2 al-Baqarah : 35

Hai Adam ! Tinggallah engkau dan istrimu di Jannah itu, makanlah yang mana saja engkau sukai, dan janganlah mendekati Syajarah ini, maka kamu akan termasuk orang zalim. – Qs. 7 al-A’raaf : 19

Setan menggoda keduanya dengan bujuk-rayu, maka ketika keduanya merasakan Syajarah tersebut, tampaklah bagi keduanya tubuh mereka masing-masing, lalu segera menutupi diri dengan daun-daun Jannah. Dan Tuhan mereka menyeru kepada mereka : ‘Bukankah Aku mencegah kamu seputar Syajarah ? Dan telah Aku peringatkan kalian bahwa setan itu merupakan musuh yang nyata bagimu ! – Qs. al-A’raaf : 22

Sejak semula, Allah bermaksud menjadikan manusia modern atau Homo Sapiens bernama Adam sebagai Khalifah atau manusia baru menggantikan manusia generasi sebelumnya diplanet bumi kita ini. Rencana Allah yang diungkapkan didalam al-Qur’an ini tidaklah dimulai dari bumi ini sendiri, melainkan berada di Jannah, diseputar Sidratul Muntaha yang berlokasi diufuk yang tinggi.

Sebagai pertanda telah tibanya waktu penugasan Adam tersebut akan disertai oleh kemandirian dan kedewasaannya selaku manusia paripurna. Kedewasaan dan kemandirian seorang laki-laki pada umumnya mulai tampak sewaktu dia sudah berpikir untuk melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita. Disini secara bijaksana kita bisa melihat bahwa larangan Allah hanya bersifat temporari atau sementara, dan ini juga bentuk ujian pertama kepada Adam.

Jannah yang ada di Muntaha bukan tempat permanen bagi hidup Adam dan generasinya sebab Allah telah menentukan Bumi inilah tempat berdomisili Adam dan semua keturunannya, karena itu naluri meneruskan keturunan disana tidak akan sesuai dengan kehendak Allah.

Meskipun demikian, Allah tidak ingin rencana-Nya menjadikan Adam Khalifah dibumi berjalan melalui paksaan, karena itu Allah sebelumnya telah memberi pengarahan kepada Adam dan istrinya agar tidak mendekati perbuatan tersebut, namun manakala Adam akhirnya melanggar dengan perantaraan setan, Allah tidak serta merta memutuskan tali kasih-Nya dengan menjadikan perbuatan tersebut sebagai dosa yang menurun kepada anak-anak Adam, Allah hanya menilai Adam telah lalai dari seruan-Nya dan Dia memaafkannya.

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, namun ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat
– Qs. 20 Thaha : 115

Saat Adam dan istrinya terpedaya oleh setan dengan melakukan perbuatan yang sudah dilarang Allah ini, mereka tersentak kaget dan langsung ingat bahwa mereka sudah melakukan sebuah kesalahan. Karena itu al-Qur’an melukiskan Adam dan istrinya dengan sigap mengambil daun-daun yang ada didalam Jannah tersebut guna menutupi aurat masing-masing karena rasa malunya dan langsung memohon ampunan.

Keduanya berkata : Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak memberi ampunan serta rahmat kepada kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang selalu merugi. - Qs. 7 al-A’raaf : 23

Lalu Tuhannya memilihnya dan Dia menerima tobatnya dan memberikan petunjuk – Qs. 20 Thaha : 122

Allah maha bijaksana, seluruh hukum dan ketetapan yang terjadi pada makhluk-makhlukNya berjalan sesuai rencana dan terjadi dengan logis, tanpa mengabaikan hukum sebab akibat. Isyarat bahwa Adam harus segera memulai tugas barunya memakmurkan bumi, menggantikan manusia purba sudah tiba.

Ini bukan hukuman dari Allah, tetapi justru suatu rahmat dan kehormatan bagi manusia yang sudah terpilih menjadi wakil Allah dibumi. Karena itu konsep dosa turunan tidak pernah dikenal didalam ajaran Islam.

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari Jannah itu dan keluar dari keadaannya semula, lalu Kami berfirman :

“Turunlah kalian ! sebagian dari kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kalian ada tempat kediaman dibumi serta kesenangan hidup sampai batas waktu yang sudah ditentukan.” – Qs. 2 al-Baqarah : 36

Istilah IHBITU atau turunlah adalah kalimah perintah, dan ini memiliki arti turun dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah, seperti dari gunung, dan juga dipakai dengan arti pindah dari satu tempat kesatu tempat yang lain. Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Qur'an pada turunnya Nabi Nuh dari kapal kedaratan, jatuhnya batu dari tempat tinggi dan lain sebagainya.

Bagaimana dan dengan cara apa Adam diturunkan kebumi ini memang tidak dijelaskan lagi oleh Allah didalam al-Qur’an, namun bisa saja hal yang sama seperti kejadian pada Nabi Yehezkiel dan Nabi Muhammad juga terjadi pada diri Adam dan istrinya. Artinya, Adam dan istrinya diberangkatkan dari Jannah kebumi ini dengan suatu kendaraan antariksa sejenis Buraq.

Ketika mereka tiba diplanet bumi kita ini, kendaraan mereka itu dikandaskan oleh Allah disuatu tempat sehingga terpisahlah Adam dan istrinya untuk sekian lamanya sehingga akhirnya mereka kembali berjumpa di padang Arafah, berjarak 25 Km dari kota Mekkah dan 18 Km dari Mina. (Arti dari Arafah sendiri adalah pertemuan).

Mereka didaratkan terpisah oleh Allah sebagai pelajaran untuk mereka berdua agar dapat belajar mengendalikan hawa nafsu mereka masing-masing sekaligus memberikan kesempatan kepada Adam dan istrinya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibumi ini yang tidak jauh berbeda dengan keadaan sewaktu mereka masih di Jannah.

Hal ini dapat kita selami dari lamanya waktu mereka berpisah begitu mereka diturunkan dibumi dari Jannah sehingga menurut salah satu riwayat berjarak sekitar 200 tahunan (sumber : Drs. H. Abujamin Roham, Aku Pergi Haji, Penerbit Media Da’wah, Jakarta, 1994, hal 134).

Mungkin kita menganggapnya tidak masuk akal, namun kita bisa mengkorelasikan kejadian ini dengan usia Nabi Nuh yang menurut al-Qur’an lamanya beliau tinggal bersama umatnya 950 tahun.(Lihat surah 29 al-‘Ankabut : 14) Juga usia ashabul Kahfi ketika tertidur didalam gua selama 309 tahun.(Lihat surah 18 al-Kahfi : 25)


Wassalam,

ISRA DAN MIRAJ

ISRA DAN MIRAJ

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Pengalaman Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi’raj termasuk hal yang juga masih mendapat banyak perdebatan didunia Islam khususnya dan dunia Barat pada umumnya yang memang memandang kisah tersebut dengan kacamata skeptis dan menganggapnya hanya sebagai khayalan dan bualan dari Nabi belaka.;

Sebaliknya umat Islam sendiri meributkan apakah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi tersebut dilakukan secara jasmani atau perjalanan rohani. Semuanya didasarkan pada cara pandang masing-masing orang dalam menafsirkan ayat dan hadis yang berhubungan dengan kejadian ini.

Kisah perjalanan malam Nabi Muhammad yang terjadi pada saat beliau kehilangan istri dan paman yang dikasihinya inipun sebenarnya secara obyektif dapat juga dianalisa melalui kacamata ilmiah dimana apa yang beliau alami sekitar 1400 tahun yang silam itu tidak ubahnya seperti seorang pebisnis yang melakukan perjalanan pulang-pergi dengan pesawat terbang dari suatu tempat ketempat yang lain.


Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil haram kemasjidil aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan Kami; Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat – Qs. 17 al-Israa’ : 1

Dengan segala kesucian-Nya, bebas dari kemauan, kehendak maupun ketinggian teknologi yang ada pada diri seorang hamba-Nya Muhammad, Allah telah memperjalankannya pada suatu malam yang sepi dengan segala kelengkapan dan fasilitas yang mengelilinginya sehinga terhindar dari segala hal buruk yang dapat terjadi selama perjalanan itu berlangsung dari suatu tempat bernama Masjid al-Haram dengan tujuan memperlihatkan kerajaan Allah dialam semesta.

Disurah yang lain Allah berfirman sehubungan peristiwa ini :

Perhatikanlah bintang ketika dia menghilang, tidaklah kawanmu (Muhammad) orang yang sesat dan bodoh, tidak juga perkataannya itu berasal dari hawa nafsunya pribadi, apa yang diucapkannya adalah wahyu yang disampaikan dan yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat (Jibril) yang mempunyai akal yang cerdas.

Dan dia telah menampakkan rupanya yang asli saat dia berada diufuk yang tinggi lalu dia mendekat dan menjadi rapat (terhadap diri Muhammad) tidak ubahnya berjarak antara dua busur panah atau lebih dekat lagi; kemudian dia (Jibril) meneruskan kepadanya (Muhammad) apa saja yang telah diwahyukan; hatinya tidak mendustakan apa yang sudah dilihatnya, maka apakah kamu hendak membantah apa yang sudah dia lihat ?

Dan sungguh dia telah melihatnya pada kesempatan yang lain, di Sidratul Muntaha yang didekatnya ada Jannah tempat tinggal; ketika Sidratul Muntaha itu diliputi sesuatu yang melapisinya maka tidaklah dirinya berpaling dari apa yang terlihat dan tidak juga dia bisa melebihinya, sungguh dia telah melihat tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat– Qs. 53 an-Najm : 1 s/d 18

Dalam ayat yang cukup panjang diatas, dipaparkan bagaimana dalam peristiwa perjalanan malamnya itu Nabi Muhammad berjumpa dengan malaikat Jibril dengan wujudnya yang asli seperti yang pernah disaksikannya saat pertama kali beliau mendapat wahyu digua Hira.

Bila kita analisa ayat per ayatnya maka tidaklah sulit bagi kita untuk mengetahui bahwa semua yang sudah dialami oleh Nabi Muhammad tersebut bukanlah bualan maupun mimpi-mimpi belaka, tidak juga yang dialaminya merupakan sekedar pengalaman rohani yang tidak melibatkan jasad jasmaninya karena disitu dicantumkan keterangan bahwa hati Nabi sebagai rohani tidak mungkin mendustakan apa yang sudah dilihat oleh matanya sebagai indra jasmani.

Sebab itu juga kita bisa mengerti bila ada sebagian orang yang tadinya beriman namun setelah beliau menceritakan pengalaman terbangnya yang hanya dalam setengah malam saja berbalik murtad dan mendustakan kenabiannya.

Peradaban masyarakat Mekkah secara khusus dan dunia secara umumnya kala itu masing sangat rendah bahkan Eropa belum lagi mengenal masa renaisansnya, dunia juga belum mengenal pesawat terbang, orang masih berkhayal terbang dengan permadani atau kuda sembrani seperti pada film Aladdin dan sejenisnya.

Pesawat terbang sendiri baru dibuat pada abad 19 yaitu bulan Desember 1903 oleh Wright bersaudara (Wilbur Wright dan Orville Wright) dengan percobaan pertama mereka diatas padang pasir Kitty Hawk, Carolina Utara, Amerika Serikat (Sumber : Brian Williams, Pustaka Pengetahuan Modern, Pesawat Terbang, terj. Dadi Pakar, Penerbit PT. Widyadara, Jakarta, hal. 3)

Kejadian didalam mimpi tidak perlu diperdebatkan apalagi membuat seseorang menjadi gusar dan berbalik keimanan. Semua orang bisa saja bermimpi yang aneh-aneh, semua orang boleh saja mengatakan bahwa didalam mimpinya tadi malam telah pergi melanglang buana dan menemui banyak wanita cantik atau bahkan didalam mimpinya itu dia sudah menjalankan ibadah haji; namun semuanya tetaplah mimpi belaka yang hakekatnya tidak terjadi dialam nyata yang sebenarnya.

Dus, sekalipun misalnya benar bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj pernah terjadi didalam mimpinya, maka sesuai dengan ayat al-Qur’an yang lain bahwa mimpi yang diperlihatkan kepada Nabi pasti akan terjadi didunia nyata dan ini berarti tetap saja akhirnya mimpi Isra’ dan Mi’raj itu dialami secara jasmani oleh Nabi Muhammad.

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya mengenai kebenaran mimpinya dengan sebenarnya – Qs. 48 al-Fath : 27

Bahwa perjalanan Isra’ dan Mi’raj disebutkan berlangsung pada waktu malam hari, dimana secara psikologis suasana lebih terasa tenang dibanding keadaan disiang atau dipagi hari, aktivitas masyarakatpun sudah berpusat didalam rumahnya masing-masing sekaligus beristirahat melepas penat bekerja seharian dan menjadi kondisi yang cocok dalam melakukan pendekatan kepada Yang Maha Kuasa apalagi bila kita mengingat keadaan jazirah Arabia diwaktu itu.

Kitab suci al-Qur’an memberikan petunjuk kepada kita saat yang terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah seorang muslim adalah malam hari.

Berdirilah pada malam hari untuk ibadah, separuhnya atau kurang dari itu atau malah lebih dari separuh malam dan bacalah al-Qur’an dengan perlahan-lahan. – Qs. 73 al-Muzzammil : 2 s/d 4

Sesungguhnya bangun diwaktu malam itu adalah paling baik dan lebih tenang bacaannya – Qs. 73 al-Muzzammil : 6

Dari kacamata ilmu modern, perjalanan Nabi keluar angkasa dimalam hari justru tepat sekali karena bila beliau diberangkatkan saat siang hari maka beliau naik menuju matahari yang menjadi pusat orbit semua planet dalam sistem matahari kita. Kenyataan ini tidak dapat disebut bahwa Nabi telah berangkat naik akan tetapi sebenarnya beliau justru turun karena semakin dekat kita pada pusat orbit atau pusat rotasi maka kita tidak sedang naik namun sedang turun, seandainya orang naik dari bumi menuju Planet Jupiter atau Saturnus hendaklah dia berangkat waktu malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling bawah dalam tata surya kita.

Orang mengetahui bahwa semesta, galaksi, tata surya dan planet, masing-masingnya mengalami perputaran. Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi pusat benda angkasa itu. Semuanya bagaikan bola atau roda yang senantiasa berputar. Maka sesuatu yang menjadi pusat putaran dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin atas.

Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh. Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat itu dikatakan semakin naik keatas. Akibatnya, orang yang berdiri di Equador Amerika dan orang yang berdiri dipulau Sumatera, pada waktu yang sama, akan menyatakan kakinya kebawah dan kepalanya keatas, padahal kedua orang tersebut sedang mengadu telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi masing-masingnya ternyata benar untuk status bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini.

Demikian juga jika contoh itu dipakai untuk status tata surya dimana matahari sebagai bola api langsung bertindak jadi pusat rotasi ataupun peredaran. Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari matahari dinamakan semakin naik keatas. Planet Venus dan Mercury berada dibawah orbit bumi karena keduanya mengorbit dalam daerah yang lebih dekat dengan matahari, jadi jika ada penduduk bumi yang pergi ke Venus, Mercury atau Matahari, maka orang tersebut hakekatnya sedang turun bukan naik, karenanya Planet Venus dan Mercury tidak mungkin disebut sebagai langit bagi planet bumi kita, sebab yang dikatakan langit adalah sesuatu yang berada dibahagian atas, tetapi benar kedua planet itu menjadi langit bagi matahari sendiri.

Selanjutnya, ayat al-Qur’an juga menyebutkan secara jelas bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi dari satu titik (daerah) bernama Masjid al-Haram dan kita semua tahu bahwa kata itu merujuk pada tempat bersujud disekeliling Ka’bah, entah itu dibagian yang disebut Hathiem, Hijir maupun maqam Ibrahim dimana menurut konon cerita sebagai tempat berpijak Nabi Ibrahim sewaktu meninggikan dasar-dasarnya bersama puteranya Nabi Ismail. Karenanya maka kita tidak perlu bingung dengan keberadaan hadis riwayat Bukhari yang menyatakan bahwa Nabi diperjalankan dari Hatihiem dan Hijr seperti berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid dari Hummam bin Yahya dari Qatadah yang berasal dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah bahwasanya Nabi Allah Saw telah menceritakan kepada mereka tentang suatu malam dimana beliau di Israa’kan : ‘Ketika aku di Hathiem dan terkadang beliau bersabda – aku ada di Hijir sambil berbaring ...’

Semuanya menunjukkan bahwa posisi Nabi kala itu masih berada di Mekkah dan dalam lingkungan Ka’bah (Masjid al-Haram) sesuai surah al-Israa’ ayat 1.

Hanya saja yang perlu kita koreksi adalah hadis-hadis lain (salah satunya juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik menurut versi Abu Dzar) yang mengatakan bahwa Nabi diberangkatkan dari dalam rumahnya dengan membukanya atap-atap rumah beliau dengan sendirinya untuk kemudian muncul Jibril dan langsung membelah dadanya lalu ada juga hadis yang mengatakan bahwa Nabi tidak berangkat dari rumahnya dan tidak pula dari dekat Ka’bah tetapi dari rumah Umi Hani binti Abu Thalib saat beliau menginap disana.

Disini kita tidak akan banyak bercerita mengenai riwayat detil hadis-hadis itu namun untuk diketahui saja bahwa ada banyak sekali variasi hadis yang menceritakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini dan masing-masing isi hadis saling berseberangan atau bertolak belakang;

Dari kacamata ilmu modern, salah satu dari kumpulan hadis-hadis itu pasti benar atau semuanya salah yang disebabkan terdistorsinya hadis Nabi oleh pikiran, ucapan maupun khayalan para perawinya, toh, mereka adalah manusia biasa, tidak ada jaminan para perawi hadis bebas dari kesalahan. Mustahil Nabi Muhammad bercerita mengenai kejadian yang sama tetapi berbeda informasinya, sebab ini berarti Nabi sudah berdusta padahal sifat ini sangat jauh dari pribadi seorang Muhammad yang sejak kecil digelari masyarakatnya sebagai al-amin.

Inilah makanya jangan terlalu bertaklid terhadap hadis, bersifat kritislah, enyahkan jauh-jauh emosional yang mengganggu pikiran rasional.

Selanjutnya dari masjid al-haram perjalanan Nabi sampai kemasjid al-aqsha; bertitik tolak dari istilah masjid al-aqsha ini maka sejumlah ulama kembali berbeda pandangan, apakah yang dimaksud adalah masjid al-aqsha yang sekarang ini berada ditanah Yerusalem ataukah nama suatu tempat nun jauh disana. Dalam hal ini Saleh A. Nahdi (Sumber: Saleh A. Nahdi, Mi’raj Isra bukan Isra Mi’raj, Penerbit PT. Arista Brahmatyasa, Jakarta, 1993, hal. 45) berpendapat bahwa masjid al-aqsha yang dimaksud merupakan masjid Nabawi dikota Madinah, dimana menurut beliau tujuan perjalanan Nabi kesana sebagai petunjuk awal dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk berpindah dari tanah kelahirannya Mekkah al-mukarromah yang waktu itu masyarakatnya sangatlah membenci beliau sekaligus menjadi titik tolak kemenangan Islam dimasa depan.

Saleh A. Nahdi menyatakan bahwa penyebutan masjid al-aqsha untuk nama tempat yang ada di Yerusalem tidaklah sesuai dengan kalimat ‘Kami berkati sekelilingnya’ sebab pada kenyataannya daerah ini tidak pernah mencerminkan isi ayat tersebut, sebaliknya hampir setiap hari kita lihat diberita terjadi pembantaian manusia oleh zionis Israel.

Senada dengan Saleh A. Nahdi, Taufik Adnan Amal (sumber: Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, dengan kata pengantar : Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Penerbit Forum Kajian Budaya dan Agama (FkBA), Yogyakarta, 2001, hal. 79, catatan kaki no. 59) berpendapat dengan merujuk istilah masjid al-aqsha yang ada pada surah al-Israa’ ayat satu kepada tempat peribadatan yang terletak di Yerusalem sangat tidak logis, karena masjid al-Aqsha baru dibangun sekitar 46 tahun setelah wafatnya Nabi, dan hadis-hadis yang bercerita pengalaman Nabi di Bait al-Maqdis bukan satu-satunya yang ditemukan dalam koleksi-koleksi hadis tentang peristiwa Mi'raj.

Menurut beliau, hadis-hadis lainnya memberi keterangan bahwa perjalanan spiritual Nabi tersebut bermula dari Mekkah dengan tanpa menyebut perjalanan ke Yerusalem [Lihat misalnya Bukhari, Shahih, Kitab al-Shalat, bab kayfafuridlat al-shalat...; Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, eds. Mahmud Muhammad Syakir & Ahmad Muhammad Syakir]; Disisi lain Taufik juga mempertanyakan bila Yerusalem dalam ayat lain dinyatakan sebagai negeri terdekat (Lihat surah 30 ar-Rum ayat 3) maka bagaimana mungkin sekarang dinyatakan Yerusalem sebagai masjid terjauh ?

Oleh karena itu masih menurut beliau, maka ahli sejarah Islam terkenal, Thabari tidak memasukkan versi hadis tentang perjalanan Nabi ke Yerusalem, tetapi menuturkan perjalanan spiritual Nabi ke langit dunia tanpa menyinggung Yerusalem. Namun berbeda dengan Saleh A. Nahdi yang berpendapat masjid al-aqsha adalah masjid Nabawi, maka Taufik Adnan Amal berpendapat bahwa masjid al-aqsha yang tercantum didalam kitab suci merujuk tempat ibadah para malaikat dilangit.

Bila kita kembalikan lagi kepada al-Qur’an sebagai data paling otentik yang diakui oleh umat Islam, penunjukan masjid al-aqsha kepada Bait al-Maqdis di Yerusalem memang tidak pernah ada sebaliknya ketika menyambung pembicaraan mengenai Isra’ Mi’raj dalam surah an-Najm, al-Qur’an memperkenalkan istilah Sidratul Muntaha dimana Nabi disebutkan telah melihat wujud asli dari malaikat Jibril.; Istilah masjid al-aqsha secara terminologi berarti tempat sujud yang jauh. Dari kitab suci, pemakaian kata masjid pernah disebut untuk merujuk tempat ibadah ashabul kahfi yang hidup sebelum kenabian Muhammad, sehingga argumentasi bahwa pengertian masjid hanya terbatas pada nama tempat dimana umat Nabi Muhammad beribadah menjadi lemah.

Sungguh kami akan mendirikan masjid (tempat bersujud) diatasnya
– Qs. 18 al-Kahf : 21

Untuk itu tidak berlebihan kiranya apabila saya cenderung mengkaitkan antara masjid al-aqsha dengan Sidratul Muntaha, dengan kata lain bahwa masjid al-aqsha yang dimaksud tidak berada dibumi ini.

Mengkaitkan antara masjid al-aqsha sebagai masjid Nabawi maupun Bait al-Maqdis di Yerusalem sama sekali tidak tepat selain memang bertentangan dengan fakta historis tanah tepi barat yang selalu menumpahkan darah sehingga tidak layak disebut kota suci yang diberkahi Tuhan sepanjang masa, perjalanan Nabi untuk sujud dimasjid Nabawi yang notabene belum ada saat itu tidak masuk dilogika.; Kita tahu sebelum Nabi memutuskan hijrah ke Madinah (dulu bernama Yatsrib) Nabi pernah melakukan hijrah ke Ethiopia (Habsyah) namun gagal. Seandainya Nabi sudah tahu bahwa tempat hijrah yang sebenarnya adalah di Madinah, beliau tidak perlu lagi mencoba ke Ethiopia.

Sidratul Muntaha bila dilihat dari kacamata ilmu modern bisa diasumsikan bagi nama sebuah planet bumi lain diluar tata surya yang kita diami ini yang letaknya jauh dari jangkauan penglihatan indrawi kita secara kasat mata. Surah an-Najm ayat ke-7 menyebutnya dengan istilah ufuk yang tinggi, sedangkan ufuk sendiri adalah batas pandangan mata, kita juga tahu mata kita ini memiliki keterbatasan dalam melihat semua benda luar angkasa yang berjumlah jutaan itu.

Dan dia berada diufuk yang tinggi – Qs. 53 an-Najm : 7

Saya juga menghubungkan antara Sidratul Muntaha yang disebut dalam ayat ke-15 surah an-Najm terdapat Jannah sebagai tempat tinggal dengan Jannah dimana dulunya Adam berasal sebelum diperintahkan Allah turun kebumi kita ini dan di Jannah itu juga para Malaikat pernah bersujud kepada Adam.

Didekatnya ada Jannah tempat tinggal – Qs. 53 an-Najm : 15

Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu didalam Jannah itu
– Qs. 7 al-a’raaf : 19

Dan saat Kami memerintahkan kepada Malaikat : ‘Sujudlah kamu semua kepadanya !’ ; Lalu mereka bersujud kecuali Iblis
– Qs. 17 al-Israa’ : 61

Istilah Jannah sendiri bisa diartikan sebagai kebun yang subur (referensi : A. Hassan, Tafsir al-Furqon, Penerbit Pustaka Tamaam Bangil, 1986, hal. 10, catatan kaki no.38), dan kita bisa membaca sifat Jannah yang lain dari surah Thaha ayat 118 dan 119 bahwa didalamnya Adam tidak merasa kepanasan akibat sinar matahari dan tidak juga dia merasa kehausan atau kelaparan maupun sampai telanjang akibat udara yang panas sehingga harus membuka pakaian, sebab tempat tersebut banyak sekali pepohonan yang rimbun dan buahnya bisa dinikmati sebagaimana isi surah al-Baqarah ayat 35.

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan dan telanjang didalamnya dan sungguh kamu juga tidak akan merasa dahaga maupun ditimpa panas matahari disana – Qs. 20 Thaha : 119

Bila kita mengadakan bacaan lintas kitab seperti yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya, al-Kitab Kristen pun menceritakan bahwa Adam dan istrinya bukan tinggal di surga yang wujudnya tidak dapat dibayangkan secara konkrit melainkan tinggal dalam sebuah kebun yang subur.

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.
- Perjanjian Lama : Kitab Kejadian : Pasal 2 ayat 8

Dengan demikian, perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad selaku Nabi terakhir pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah suatu perjalanan pulang kampung. Melihat kembali tempat dimana dulunya nenek moyang manusia bumi ini (yaitu Adam dan istrinya) berasal.

Hadis-hadis yang mengisahkan peristiwa ini memang sangat beragam dan tidak jarang saling bertentangan satu dengan yang lain, namun dari perbedaan-perbedaan tersebut, ada persamaan yang perlu kita perhatikan, yaitu kisah dimana Nabi disebutkan mengendarai Buraq dalam perjalanan malamnya itu.

Adalah logis dan sejalan dengan kausalita bahwa saat seseorang melakukan perjalanan yang berjarak jauh, dia memerlukan alat transportasi sebagai jembatan atas keterbatasan phisiknya. Apalagi untuk menempuh perjalanan antar bintang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, praktis beliau pun membutuhkan sarana transportasi ini dengan kemampuan yang memang memadai untuk memberikan perlindungan dari segala macam bahaya, baik dari benturan meteor, kehampaan udara, pergesekan dengan atmosfir bumi dan sebagainya. Allah tidak melakukan pelanggaran hukum alam disini, Dia tidak memperjalankan Nabi Muhammad layaknya seorang Superman yang terbang bebas atau tidak juga memberinya kuda sembrani bersayap dan karpet terbang namun Dia memberikan sebuah wahana antariksa bernama Buraq.

Istilah Buraq mungkin berasal dari istilah Barqu yang berarti kilat sebagaimana terdapat pada ayat al-Qur’an yang bisa dilihat dibawah ini. Dengan perubahan istilah barqu menjadi buraq, Nabi hendak menyampaikan kepada kita bahwa kendaraannya itu memiliki kecepatan diatas sinar, jauh meninggalkan teknologi yang sudah kita capai dijaman sekarang ini, mungkin lebih mirip dengan kecepatan piring terbang yang sering dilaporkan oleh masyarakat sehingga praktis Nabi dapat melakukan perjalanan antar planet dalam waktu setengah malam saja.

Hampir-hampir kilat itu menyambar pemandangan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan dibawah sinar itu dan bila gelap tiba, mereka berhenti berjalan. Niscaya jika Allah menghendakinya Dia melenyapkan pemandangan dan penglihatan mereka, karena Allah maha berkuasa atas segala sesuatu. – Qs. 2 al-baqarah : 20

Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit. Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 milyar tahun cahaya melalui galaksi-galaksi dan selanjutnya menuju tempat yang oleh S. Anwar Effendie (sumber: S. Anwar Effendie, Isra’ Mi’raj, Perjalanan ruang waktu dalam kaitannya dengan penciptaan alam raya, Penerbit PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1993, hal. 147) disebutnya sebagai kulit bola alam raya dengan garis tengah 40 milyar tahun cahaya.

Untuk mencapai jarak yang demikian jauhnya tentu diperlukan penambahan kecepatan yang berlipat kali kecepatan cahaya. Karenanya Kenneth Behrendt seorang konsultan teknik dan ahli kimia Amerika seperti yang dilansir oleh Angkasa Online N0.8 Mei 2000 TAHUN X (sumber: Angkasa Online, www.angkasa-online.com/10/08/fenom/fenom1.htm, Menjejak UFO dengan Kemampuan Terbatas, No.8 Mei 2000 Tahun X) mengungkapkan pesimistiknya mengenai perjalanan keluar angkasa jika hanya mengandalkan teknologi pesawat saja, sebab menurutnya perjalanan kealam semesta terdekat, yakni Alpha Centauri yang berjarak empat tahun cahaya, bisa dipastikan tak akan pernah terjadi.

Sebab untuk mencapainya paling-tidak diperlukan waktu hingga 80.000 tahun. Dengan waktu selama ini, boleh jadi tujuan perjalanan yang sesungguhnya justru akan terlupakan di tengah jalan. Perjalanan pun kian tak berarah mengingat dalam kecepatan cahaya tak ada satu pun gelombang radio yang bisa digunakan untuk mengantar pesan dan komando taktis dari pangkalannya dibumi ini.

Namun bagi saya, disitulah justru letak keistimewaan terbesar Nabi Muhammad selain al-Qur’an, bukankah sudah kita bahas sebelumnya bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah atas kehendak dari Nabi sendiri dan tidak juga mengandalkan teknologi atau kemampuan yang beliau miliki tetapi semuanya atas keinginan dari Allah yang memang maha memiliki kemampuan teknologi dan adalah mudah bagi-Nya untuk menyiapkan sebuah pesawat yang mampu melintasi alam semesta dengan garis tengah milyaran tahun cahaya.

Dari sisi ilmu komputer mungkin bisa dicontohkan dengan analogi dari prinsip-prinsip jaringan komputer sebagai berikut : Protocol TCP / IP yang kita gunakan di Internet kita ibaratkan sebagai Buraq atau kendaraan yang dipakai oleh Nabi, sedangkan diri Nabi Muhammad sendiri adalah paket data (e-mail misalnya) yang akan kita kirimkan ke ujung belahan dunia lain (planet Muntaha). Melalui proses enkripsi, enkode dan dekode yang dikapsulkan (capsulated) di dalam protocol TCP / IP (Buraq), paket data (dalam hal ini Nabi) dapat melihat-lihat dan berjalan-jalan menelusuri jaringan Internet yang berbeda-beda dimensinya (disini kita ingat bahwa Nabi disebut-sebut banyak melihat-lihat pemandangan yang mencerminkan masa yang akan datang), lewat transmisi terrestrial (dimensi kabel, serat optik) kemudian di up link melalui transmisi satelit dan micro wave (dimensi radio link) hingga kembali ke bentuk dimensi asalnya teks di layar komputer (planet Muntaha), begitu juga sebaliknya.

Untuk itulah kiranya bisa dimengerti kenapa sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi, Nabi Muhammad dibelah dadanya oleh para Malaikat. Hal ini tidak lain sebagai suatu persiapan kondisi jasmaninya agar cukup dan mampu dalam menempuh penerbangan jarak jauh. Sebab jantung merupakan alat vital bagi manusia terutama dalam memacu peredaran darah yang mana jantung ini bekerja tanpa henti-hentinya sejak dari kandungan sampai dengan akhir hayatnya.

Sepasang dokter Amerika yang terdiri dari suami istri, Dr. William Fisher dan Dr. Anna Fisher mengatakan bahwa perkembangan ilmu kedokteran antariksa tengah memfokuskan penyelidikannya sehubungan dengan pembuluh darah jantung para astronot dan kondisi-kondisi tulang yang makin lemah setelah lama dalam ruang angkasa, ini membuktikan kebenaran dari peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad oleh dokter-dokter ahli langit yang ditunjuk oleh Allah, yaitu para malaikat yang diketuai oleh Jibril.

Dalam peristiwa pembedahan dan pembersihan jantung Nabi sebelum Mi'raj kiranya merupakan gambaran adanya pengertian bagi manusia umumnya untuk mempelajari ilmu kedokteran khusunya dalam bidang bedah dan anatomi serta ilmu kedokteran antariksa. Dan ternyata kemudian bedah jantung ataupun pencangkokan jantung dan ilmu kedokteran antariksa oleh para ahli mulai diperkenalkan pada abad dua puluh.

Pada abad-abad kemajuan Islam dibidang teknologi dan ilmu pengetahuan, maka jelaslah bagi kita bahwa ahli-ahli kedokteran muslim telah memperlihatkan kemajuan yang pesat sekali. Buku-buku berbahasa Arab yang berisi ilmu-ilmu kedokteran benar-benar ilmiah dan asli. Malahan sudah menjadi bahan pelajaran dinegara Eropa khususnya, ahli-ahli kedokteran yang termasyur misalnya saja Ibnu Sina (Aviccena), Qorsh-'Ala'uddin, Ibnu An Nafis (yaitu dokter yang pertama kali mengajarkan peredaran darah) dimana dalam tulisan itu dijelaskan secara sistematis bagaimana aliran darah mengalir dari hati kejantung melalui urat nadi paru-paru dan kemudian kembali lagi kehati.

Mengenai kecepatan cahaya sendiri, al-Qur’an sudah memberikan contoh melalui perjalanan malaikat menuju kehadirat-Nya dalam ayat berikut :

Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun - Qs. 70 al-Maarij : 4

Ukuran waktu dalam ayat diatas disebutkan angka 50 ribu tahun sebagai rentang waktu yang menunjukkan betapa lamanya waktu yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada Tuhan. Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi dengan waktu malaikat yang bergerak cepat diluar angkasa, dalam bahasa modern kita bisa menjelaskan bahwa waktu untuk seseorang yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam pesawat yang berkecepatan tinggi.

Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun elektron atau 1 tahun Bima Sakti sama dengan 225 juta tahun waktu sistem solar.

Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat sama dengan 50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai 'Arsy Ilahi, 10 Milyar tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun waktu malaikat. Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu bumi (maksimum 12 Jam) atau sama dengan 1/100.000 tahun Jibril.

Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya. Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja.

Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya. Kembali pada peristiwa Mi'raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi atau 1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10 pangkat -5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 pangkat-23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19 pangkat -11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.

Nah, istilah berkah yang disebut dalam surah al-Israa’ ayat satu menurut pendapat penulis merupakan penjagaan total yang melindungi Nabi Muhammad didalam kendaraan Buraqnya dari berbagai bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi pernafasan Rasulullah selama itu dan lain sebagainya.

Jika kita sudah terbiasa menonton film Star Treks, Star Wars, Babilon V atau juga Independence Day (ID4) maka tidaklah sukar kiranya untuk memahami peristiwa yang dialami oleh Nabi dalam kisah Isra’ dan Mi’raj tersebut. Manusia sekarang ini sudah mampu mengkhayal kecanggihan yang demikian luar biasanya dalam film-film fiksi ilmiah dan ini sebenarnya adalah ilham yang sudah diberikan Allah kepada kita agar kelak kitapun harus dapat merealisasikannya secara nyata.

Dus, perjalanan Nabi Muhammad yang masih dianggap fantastis dan ghaib ini bukan satu-satunya hal yang pernah terjadi dalam sejarah kenabian, didalam al-Kitab tepatnya pada Perjanjian Lama kita juga bisa membaca bahwa Nabi Yehezkiel (salah seorang Nabi Israel yang oleh sementara cendikiawan Islam diduga sebagai Nabi Zulkifli) pernah melakukan perjalanan yang serupa hanya saja beliau tidak sampai menjelajah keluar angkasa.

Berikut petikan kisahnya :

Dalam tahun kedua puluh lima sesudah pembuangan kami, yaitu pada permulaan tahun, pada tanggal sepuluh bulan itu, dalam tahun keempat belas sesudah kota itu ditaklukkan, pada hari itu juga kekuasaan TUHAN meliputi aku dan dibawa-Nya aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke tanah Israel dan menempatkan aku di atas sebuah gunung yang tinggi sekali. Di atas itu di hadapanku ada yang menyerupai bentuk kota.

Ke sanalah aku dibawa-Nya. Dan lihat, ada seorang yang kelihatan seperti tembaga dan di tangannya ada tali lenan beserta tongkat pengukur; dan ia berdiri di pintu gerbang.

Orang itu berbicara kepadaku: ‘Hai anak manusia, lihatlah dengan teliti dan dengarlah dengan sungguh-sungguh dan perhatikanlah baik-baik segala sesuatu yang akan kuperlihatkan kepadamu; sebab untuk itulah engkau dibawa ke mari, supaya aku memperlihatkan semuanya itu kepadamu. Beritahukanlah segala sesuatu yang kaulihat kepada kaum Israel’. – Perjanjian Lama : Kitab Yehezkiel 40 : 1 - 4

Dalam ayat diatas kita mendapat gambaran, bahwa Nabi Yehezkiel atas kehendak dari Allah –serupa dengan kejadian Nabi Muhammad yang bukan atas keinginan pribadinya- telah diperjalankan dari tempatnya semula menuju kesuatu gunung yang sangat tinggi dan dari atas gunung itu Yehezkiel mampu memandang keseluruhan kota secara leluasa. Pada ayat lain dari kitab Yehezkiel, kita juga akan menemukan bahwa kemungkinan Buraq juga sudah pernah diturunkan oleh Allah melalui malaikat-Nya pada jaman kenabian Yehezkiel dan mungkin pesawat yang memiliki kecepatan diatas cahaya ini juga yang telah membawanya keatas sebuah puncak gunung yang tinggi itu.

Datanglah firman TUHAN kepada imam Yehezkiel, anak Busi, di negeri orang Kasdim di tepi sungai Kebar, dan di sana kekuasaan TUHAN meliputi dia.

Lalu aku melihat, sungguh, angin badai bertiup dari utara, dan membawa segumpal awan yang besar dengan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar; di dalam, di tengah-tengah api itu kelihatan seperti suasa mengkilat. Dan di tengah-tengah itu juga ada yang menyerupai empat makhluk hidup dan beginilah kelihatannya mereka: mereka menyerupai manusia. – Perjanjian Lama : Kitab Yehezkiel 1:3-5

Terlepas sejauh mana kepercayaan kita pada apa yang disampaikan didalam kitab Perjanjian Lama tersebut, setidaknya secara obyektif kita memiliki satu parameter perbandingan dengan kisah-kisah yang ada didalam Islam. Apalagi kita tahu bahwa al-Kitab sendiri sebenarnya merupakan ajaran Tuhan yang pernah ada namun di interpolasi oleh tangan-tangan manusia, tetapi dibalik semua intervensi yang terjadi ini saya memiliki keyakinan bahwa jejak-jejak kebenaran Tuhan akan tetap ada dan nyata dalam kitab tersebut, karena itu al-Qur’an disebut sebagai korektor atau pembanding terhadap kebenaran yang ada.

Dan Kami telah menurunkan untukmu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang ada sebelumnya, yaitu beberapa kitab suci sekaligus menjadi korektor terhadap kitab-kitab yang lain itu – Qs. 5 al-Maidah : 48

Wassalam,

MAKHLUK LUAR ANGKASA

MAKHLUK LUAR ANGKASA

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Berbicara mengenai makhluk luar angkasa akan membawa kita pada kontroversi berkepanjangan yang sampai hari ditulisnya buku ini pun perdebatan dikalangan ilmuwan dan juga agamawan terus berlanjut. Tidak ada kata sepakat mengenainya. Ada yang mengkaitkan mereka dengan makhluk jenis Jin, ada juga yang berpendapat bahwa mereka benar-benar ada dan berupa makhluk tersendiri terpisah dari jenis manusia dan jin, ada juga yang mengingkari keberadaannya dan menganggapnya sekedar berita bohong, isapan jempol dan imajinasi belaka.

Padahal seperti yang telah diungkapkan oleh Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya[1], bahwa bumi yang kita diami ini tidaklah lebih dari sebutir debu dialam semesta yang amat besar dan megah dan penuh dengan kehidupan dan makhluk hidup. Kita akan menjadi orang dungu apabila mengira hanya kita sajalah makhluk hidup dalam wujud semesta yang maha luas ini. Allah telah menciptakan begitu banyak galaksi, mungkinkah hanya satu planet saja yang berisi kehidupan ?

Alam ini bagi al-Ghazali sudah penuh sesak dengan makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah yang merujuk pada wujud-Nya dan bersaksi tentang kebesaran-Nya. Senada dengan pernyataan ini, penulis Indonesia kontroversial ditahun 80-an asal Sumatera Barat bernama Nazwar Syamsu[2] berpendapat bahwa banyaknya laporan masyarakat bumi terhadap penampakan UFO atau piring terbang harus menjadi alasan positip yang mengkuatkan adanya kehidupan manusia bermasyarakat diplanet lain seperti halnya yang ada diplanet kita ini.

Namun berbeda dengan keduanya, Muhammad Isa Dawud dengan semua uraiannya yang panjang lebar didalam bukunya menyatakan bahwa semua misteri seputar keberadaan piring terbang ataupun makhluk luar angkasa tidak lain hanyalah perbuatan dan tipu daya Iblis bersama Dajjal yang memiliki markas besar disegitiga Bermuda[3].

Terlepas dari perbedaan pendapat yang ada diatas tadi, maka bagaimanapun logika mereka tidak ada yang menyimpang dari apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya didalam kitab suci al-Qur’an maupun al-Hadis. Mereka ini pada hakekatnya berbeda dalam cara penafsiran ayat dan hadis sesuai dengan cara maupun sudut pandang masing-masing. Tetapi satu hal yang pasti bahwa semua dalil yang mereka pergunakan sangat patut untuk dijadikan perhatian bagi kita semua, terutama untuk yang tertarik dalam kajian ini.

Cerita mengenai keberadaan dari piring terbang dan manusia-manusia dari luar angkasa sendiri sebenarnya sudah dikenal jauh sebelum teknologi modern manusia dicapai, misalnya dongeng-dongeng mengenai kerajaan Atlantis atau juga kisah mengenai kepahlawanan Hercules yang akhirnya kembali kelangit bersama ayahnya Zeus setelah menyelesaikan tugas dibumi tidak bisa dianggap hanya sekedar cerita pengantar tidur bangsa Yunani kuno bahkan cerita keperkasaan Gatot Kaca dalam wayang purwa yang memiliki baju terbang bernama “Kotang Antakusuma” dan helm “Basunanda” lengkap dengan sepatu pelindung “pada kacarma” juga menjadi suatu teori tersendiri oleh sejumlah peneliti masalah piring terbang.

Lalu bagaimana sebenarnya pendapat al-Qur’an sendiri mengenai hal-hal yang masih merupakan misteri besar ini ?

Kitab suci al-Qur’an memang tidak bercerita secara jelas (didalam ayat-ayat Muhkamatnya) kepada kita mengenai keberadaan makhluk hidup diluar manusia berikut planet dimana mereka tinggal. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa secara simbolik (melalui ayat-ayat Mutasyabihatnya) al-Qur’an juga menolak keabsahan teori-teori tersebut, sebab sebaliknya justru al-Qur’an menggambarkan kekuasaan Tuhan disemua alam semesta yang melingkupi seluruh makhluk hidup yang ada dan tersebar disemua penjuru galaksi.

Dan diantara ayat-ayat-Nya adalah menciptakan langit dan bumi ; dan Dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. - Qs. 42 Asy-Syura :29

Dan Allah telah menciptakan Dabbah dari almaa’; diantara mereka ada yang berjalan diatas perutnya dan ada juga yang berjalan dengan dua kaki dan sebagiannya lagi berjalan atas empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki, karena sesungguhnya Allah berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.. - Qs. 24 An-Nur :45

Melalui surah asy-syura ayat 29 diatas kita memperoleh gambaran dari al-Qur’an bahwa Allah telah menyebarkan dabbah disemua langit dan bumi yang telah diciptakan-Nya. Pengertian dari istilah Dabbah ini sendiri bisa kita lihat pada surah an-Nur ayat 45, yaitu makhluk hidup yang memiliki cara berjalan berbeda-beda, ada yang merayap seperti hewan melata ada yang berjalan dengan dua kaki sebagaimana halnya dengan manusia dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki seperti kuda, anjing, kucing dan seterusnya sehingga merujuk istilah Dabbah yang ada dilangit dengan makhluk berjenis Jin atau Malaikat saja dan mengabaikan kemungkinan adanya makhluk jenis lain berarti bertentangan dengan maksud kitab suci sendiri.

Dan hanya kepada Allah saja bersujud semua yang ada dilangit dan dibumi, mulai dari Dabbah hingga para malaikat; sementara para malaikat itu tidak pernah berbuat angkuh – Qs. 16 an-Nahl : 49

Karena itu tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada mereka yang menolak keberadaan makhluk hidup diluar jenis manusia dan jin sekaligus menyatakan bahwa hanya diplanet bumi ini sajalah makhluk hidup ciptaan Allah, menurut pendapat penulis pribadi, maka dijaman yang serba modern dan canggih ini apalagi didukung oleh ayat-ayat al-Qur’an sendiri tidaklah bisa dibenarkan. Adalah mustahil kebohongan dilakukan oleh hampir separuh penghuni bumi ini dalam waktu yang berbeda dan bahkan dipisahkan oleh kurun masa berabad-abad dari sekarang.

Su’ud Muliadi[1] misalnya menyatakan dalam bukunya bahwa laporan paling tua mengenai pesawat dari luar angkasa yang mendarat dibumi ini berasal dari abad ke-15 sebelum Masehi, yaitu pada sebuah tulisan Mesir kuno (papirus) yang merupakan bagian dari buku harian Raja Thutmosis III (1504-1450 SM) yang merupakan raja Mesir terbesar dimasa lalu dengan daerah kekuasaannya sampai kesungai Euphrat dan Sudan.

Laporan itu terjadi pada salah satu ekspedisi penaklukkan yang dipimpinnya langsung, dimana dalam perjalanannya Thutmosis III melihat adanya sebuah lingkaran api muncul diangkasa dengan panjang sekitar 1 rod atau ± 5 meter tanpa mengeluarkan suara dan perlahan bertambah tinggi naik keangkasa menuju keselatan dan menghilang dikegelapan malam.

Seterusnya beberapa penemuan Arkeologi kerajaan Romawi kuno juga menunjukkan bahwa penampakan dari piring terbang juga pernah terjadi dimasa lalu. Salah satu penemuan itu berupa mata uang logam Romawi kuno yang berukiran gambar bintang dan sebuah bola dengan antena mirip satelit yang ada dijaman kita modern ini. Pendapat awal yang memperkirakan bahwa bola berantena ini merupakan ukiran matahari akhirnya kandas setelah penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan adanya kenyataan empat sinar cahaya dari bola itu dipancarkan dengan cara yang berlainan terhadap cahaya dari matahari. Apalagi pada mata uang logam tersebut terdapat kata-kata Providentia Deorum yang memuliakan para dewa dan terdapat seorang wanita dalam wujud Providentia muncul dari cahaya yang bersinar tersebut[2].

Selanjutnya berturut-turut Yves Naud dalam bukunya berjudul Peninggalan Masa Lampau yang misterius dan UFO, dan Erich Von Daniken dengan bukunya Adakah makhluk lain dari angkasa luar[3] memberikan kehadapan kita banyak sekali data-data yang memastikan mengenai apa yang telah disampaikan oleh ayat-ayat al-Qur’an tadi. Bahkan menurut Yves Naud berdasarkan penelitiannya yang panjang, teknologi yang pernah dicapai oleh nenek moyang manusia jaman dahulu kala jauh melebihi apa yang sudah dicapai oleh manusia modern sekarang ini.

Hal ini dibuktikannya dengan keberadaan Peta Piri Reis yang merupakan suatu peta dengan rancangan ilmu geografis sangat akurat Konon pada awal abad ke delapan belas, di istana Topkapi Turki, ditemukan peta-peta kuno. Peta itu adalah milik seorang perwira tinggi Angkatan Laut Turki Laksamana Piri Reis. Dua buah atlas yang disimpan di perpustakaan negara di Berlin yang memuat gambar yang tepat dari laut Tengah dan daerah sekitar laut Mati, juga berasal dari Laksamana Piri Reis ini. Semua peta ini telah diserahkan kepada Arlington H. Mallerey seorang Kartograf Amerika untuk diteliti. Mallerey memperkuat fakta yang luar biasa bahwa semua data geografi terdapat pada peta-peta itu, tetapi tidak digambar pada tempat yang semestinya. Ia minta bantuan dari Walters seorang kartograf dari Biro Hidrografi Angkatan Laut Amerika Serikat. Mallerey dan Walters bersama-sama menyusun suatu skala dan mentransformasikan peta itu menjadi bola dunia. Mereka membuat penemuan yang menggemparkan.

Petanya memang cermat, bukan hanya mengenai Laut Tengah dan Laut Mati saja melainkan pantai-pantai Amerika Utara dan Selatan bahkan garis-garis tinggi Permukaan Samudra Antartika pun dilukiskan dengan persis sekali pada peta Piri Reis itu. Peta itu bukan hanya memproduksikan garis besarnya benua-benua melainkan juga topografi dari daerah-daerah pedalaman. Pegunungan, puncak gunung, pulau, sungai dan dataran tinggi; semuanya digambarkan de ngan ketepatan yang luar biasa.

Dalam tahun 1957, peta-peta itu diserahkan kepada Jesnit Lineham, yang menjabat direktur dari Weston Observatory merangkap juru potret pada Angkatan Laut Amerika Serikat. Setelah memeriksanya dengan cermat, Lineham pun hanya dapat memperkuat ketepatannya yang fantastis itu bahkan sampai mengenai daerah daerah yang di masa sekarang jarang sekali dipelajari. Yang paling menonjol ialah bahwa pegunungan di Antartika yang baru ditemukan pada tahun 1952, dalam peta Reis telah terdapat. Pegunungan itu telah tertutup oleh es beratus-ratus tahun lamanya. Peta kita sekarang dibuat berdasarkan hasil pemetaan dengan menggunakan alat-alat gema suara. Penyelidikan terakhir yang dilakukan oleh Profesor Charles. H. Hapgood dan ahli matematika Richard W. Strachan telah memberikan informasi yang lebih mengherankan lagi. Setelah diadakan perbandingan dengan hasil pemotretan bulatan dunia kita yang di lakukan secara modern dari satelit, perbandingan itu menunjukkan bahwa peta aslinya dari Piri Reis itu pasti telah dibuat berdasarkan hasil pemotretan dari udara dengan ketinggian yang jauh sekali.

Sebuah kapal ruang angkasa terbang diam di atas Kairo dan membidikkan kameranya lurus ke bawah, setelah filmnya dicuci maka akan terdapat gambaran ini; segala sesuatu yang ada dalam radius kira-kira 5.000 mil dari Kairo akan direproduksikan secara tepat, karena semuanya ada di bawah lensa. Tetapi negara-negara dan benua-benua di luar radius itu akan berubah reproduksinya dari keadaan sebenarnya. Semakin jauh pandangan kita dari titik pusat gambar, semakin banyak penyimpangan atau perubahan gambarnya. Mengapa ini semua? karena bumi ini berbentuk bulatan, benua-benua yang jauh dari titik pusat seolah tenggelam ke bawah. Negara Amerika Selatan misalnya, tampaknya berubah dengan janggal sekali pada ukuran memanjangnya, persis seperti perubahan pada peta Piri Reis ! Dan juga persis seperti hasil-hasil pemotretan yang dilakukan satelit buatan dari Amerika.

Bagaimana kita bisa menjelaskan hal demikian itu, bagaimana mungkin nenek moyang kita mampu membuat peta seakurat ini dengan pengetahuan mereka yang konon menurut buku-buku sejarah masih dalam taraf hidup didalam gua dan mengembara (nomaden) ? Tidakkah teori yang menyatakan bahwa nenek moyang manusia sebenarnya pernah mencapai kemajuan dibidang ilmu dan teknologi canggih sebelum akhirnya melalui sebuah banjir besar telah melemparkan manusia kembali kejaman batu, bisa diterima ? Bisakah ajaran Islam yang diklaim sebagai ajaran Tuhan semesta alam menjawab semuanya ?

Dan orang-orang yang hidup sebelum mereka sekarang ini telah pernah mendustakan Kami, padahal mereka yang ada sekarang ini belum sampai pada sepersepuluh yang pernah Kami berikan kepada mereka dahulu kala. - Qs. 34 Saba’ : 45

Beberapa penafsir kitab suci ada yang merujuk maksud dari orang-orang yang hidup sebelumnya pada ayat tersebut sebagai orang-orang kafir Mekkah yang sudah meninggal sebelum kenabian Muhammad, akan tetapi adalah sah-sah saja bila kita menafsirkannya dengan makna yang lebih luas dari itu dan menghubungkan ayat ini dengan teori yang sudah kita bahas sebelumnya. Apalagi dalam catatan kakinya yang menjelaskan ayat ini, Departemen Agama Republik Indonesia menulis maksud dari sepersepuluh yang kami berikan kepada orang-orang sebelumnya itu adalah pemberian Allah seputar kepandaian ilmu pengetahuan, umur panjang, kekuatan jasmani, kekayaan harta benda dan sebagainya.[4]

Seperti yang sering saya singgung, bahwa al-Qur’an harus dipahami secara universal dan aktual, sehingga kemonotonan penafsiran yang ada pada tafsir Qur’an tradisional tidak membuat kitab suci ini sebagai sesuatu yang hanya menjadi pajangan dimasjid ataupun bacaan saat menjelang sholat Jum’at. Kita harus melanjutkan misi aktualisasi kitab suci yang sudah dirintis oleh Syaikh Muhammad Abduh dan muridnya Rasyid Ridha diawal abad 20. Bangsa Indonesia sendiri memiliki banyak cendikiawan muslim modern yang telah mencoba memberikan tafsiran baru ayat-ayat al-Qur’an. Sebut saja misalnya nama-nama seperti Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja melalui bukunya versi baru Ihya Ulumiddin[5] atau Nurcholish Madjid dalam Khazanah Intelektual Islam[6] serta nama Nazwar Syamsu yang terkenal dengan bukunya Tauhid dan Logika[7].

Dengan begitu, maka kita bisa mendapatkan kitab suci al-Qur’an benar-benar sebagai kitab petunjuk yang bermanfaat bagi manusia didalam mempelajari ilmu dunia maupun ilmu akhirat.

Keberadaan planet-planet yang berfungsi sebagai tempat hidup dan berkehidupan makhluk berjiwa seperti bumi misalnya secara eksplisit bisa juga kita peroleh didalam ayat al-Qur’an :

Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu juga bumi; berlaku hukum-hukum Allah didalamnya, agar kamu ketahui bahwa Allah sangat berkuasa terhadap segala sesuatu; dan Allah sungguh meliputi segalanya dengan pengetahuan-Nya. - Qs. 65 ath-Thalaq : 12

Jika kata langit dan bumi disebut dengan bilangan tujuh yang berarti banyak (lebih dari satu), maka tentu yang dimaksud dalam ayat ini adalah kemajemukan gugusan galaksi yang terdiri dari jutaan bintang dan planet-planet yang ada sebagaimana yang kita ketahui dari ilmu astronomi modern. Oleh karenanya secara tidak langsung al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa Bumi yang kita diami ini bukanlah satu-satunya bumi yang ada dijagad raya.

makhluk-makhluk yang ada dilangit dan dibumi memerlukan Dia, setiap waktu Dia dalam kesibukan. - Qs. 55 Ar-Rahman :29

Setelah berkali-kali mengadakan pengamatan secara teliti menggunakan teleskop-teleskop Observatorium W.M. Keck Hawaii, Observatorium Lick di California dan Observatorium McDonald di Texas sejak bulan Juli 2003 yang lalu, maka hari selasa tanggal 31 Agustus 2004 sejumlah astronom mengumumkan penemuan jenis planet baru yang memiliki lebih banyak kesamaan dengan Bumi dibanding dengan planet-planet gas raksasa yang pernah ditemukan sebelumnya[8]

Planet-planet mirip bumi tersebut yang pertama berada di gugusan Leo memiliki massa 21 kali ukuran bumi dan waktu rotasi 2,64 hari dengan perkiraan jarak lebih kurang 33 tahun cahaya dari Bumi kita sedangkan planet berikutnya berada digugusan Cancer memiliki massa 18 kali dari bumi dan waktu orbit 2,81 hari dengan jarak dari bumi ini sekitar 41 tahun cahaya. Atas penemuan kedua planet ini baik Barbara McArthur, peneliti dari Universitas Texas di Austin maupun Anne Kinney, direktur Direktorat Misi Ilmiah Divisi Jagad Raya NASA sama-sama mengungkapkan rasa optimisnya bahwa teka-teki keberadaan makhluk hidup lain diluar bumi akan segera terjawab.

Planet lainnya yang baru ditemukan dan diduga memiliki juga persamaan dengan bumi adalah planet yang mengorbit bintang Gliese 876 berjarak sekitar 15 tahun cahaya dari bumi pada arah rasi bintang Aquarius dengan massa sebesar 5,9 hingga 7,5 kali massa bumi[9]

Sementara misi antariksa tanpa awak Voyager 1 yang diluncurkan atas kerjasama NASA dan Caltech pada tanggal 5 September 1977 sudah berada diluar tata surya kita dengan jarak 14 milyar kilometer dari planet bumi dan tengah menyelidiki heliopause dan medium antar bintang, ini adalah satu-satunya benda buatan manusia modern yang berada jauh diruang angkasa sehingga untuk dapat menangkap sinyalnya dipusat kontrol Jet Propulsion Laboratory di dekat Pasadena, California dibutuhkan waktu lebih dari 13 jam.[10]

Akhirnya, bersikap terlalu skeptis terhadap sejumlah kalangan yang menyibukkan dirinya untuk melakukan eksplorasi angkasa raya guna menemukan peradaban lain maupun mentertawakan sejumlah penelitian terhadap ilmu pengetahuan yang pernah dicapai oleh nenek moyang manusia dimasa lalu sungguh bukan perbuatan yang bijaksana dan bertentangan dengan kitab suci.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memperolok-olok suatu kaum yang lain, karena boleh jadi mereka itu lebih baik dari mereka yang mengoloknya; dan jangan juga para wanita saling memperolok sesamanya sebab boleh jadi wanita yang diperolokkan itu lebih baik dari wanita yang memperoloknya ; dan jangan kamu mencela dirimu sendiri serta jangan kamu saling memanggil dengan gelar yang jahat. Sejahat-jahat panggilan adalah yang jahat setelah ia beriman dan siapa saja yang tidak bertobat, maka mereka adalah orang yang zhalim. – Qs. 49 al-Hujuraat : 11

Kita selaku manusia modern ini harus segera berhenti meneruskan perilaku pongah yang disertai stagnasi pendapatnya yang usang, keberadaan para aliens alias makhluk berjiwa diplanet bumi yang lain nun jauh dikedalaman langit jangan sampai menimbulkan kekhawatiran berlebihan bahwa pendapat manusia sebagai makhluk termulia akan dilecehkan atau menjadi rusak. Pada hakekatnya manusia ini cuma sekedar makhluk yang hina[11] dengan kediaman berada dipinggiran galaksi tak lebih dari setitik debu berjarak ± 300 juta miliar km dari pusat Bimasakti. Mari kita berhenti berpikir egois dan merasa sebagai makhluk yang paling diperhatikan Tuhan, padahal nyaris setiap hari kita melupakan Tuhan dan bergulat dengan dosa, zinah, korupsi, dusta dan seribu satu macam kufur nikmat lainnya, manusia terlampau membumi sehingga tidak kuasa melepas ke-‘akuannya’.


[1] Su’ud Muliadi, Sm Hk, Mahluk Angkasa Luar dan al-Qur’an, Penerbit PT. Garoeda Boeana Indah, Pasuruan, 1993, hal. 17.

[2] Idem, hal. 21.

[3] Kedua buku ini bisa didownload langsung melalui Internet dari website Beta-UFO dengan alamat http://www.betaufo.com/ dalam format file PDF

[4] al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta, Penerbit Gema Risalah Press Bandung, Edisi refisi tahun 1989, Catatan Kaki no 1244, hal. 691

[5] Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja, Karsa Menegakkan jiwa agama dalam dunia ilmiah, versi baru Ihya Ulumiddin, Penerbit Iqra, Bandung, 1982

[6] Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1984

[7] Nazwar Syamsu, Tauhid dan Logika, al-Qur’an dasar tanya jawab Ilmiah, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta, 1980

[8] Kompas Cyber Media, http://www.kompas.com/teknologi/news/0409/01/173543.htm, rubrik Sains & Teknologi

[9] Harian umum Berita Pagi, Planet Baru itu, Kecil dan Berbatu, No. 37 Tahun 1, Rabu, 15 Juni 2005 hal 1

[10] Wikipedia Indonesia, ensiklopedi bebas berbahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Voyager_1

[11] Silahkan buka al-Qur’an surah 32 as-Sajdah ayat 8

Wassalam,

JIN

JIN

Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Jin, apa dan bagaimana ?

Sebagaimana telah disinggung oleh surah ar-Rahman dan al-Hijr, bahwa Jin tercipta dari api yang sangat panas, dan dari jenis Jin ini jugalah Iblis berasal.

Dia menciptakan Jin dari nyala api - Qs. 55 ar-rahman : 15

Iblis, adalah dia dari golongan jin - Qs. 18 al-Kahfi : 50

Tetapi apakah semua Jin itu berlaku jahat seperti Iblis ?
mari kita simak pengakuan langsung dari Jin kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang ada di firmankan ALLAH dalam al-Qur’an :

Sesungguhnya diantara kami ada orang-orang sholeh dan diantara kami ada juga yang tidak, karena kami menempuh jalan yang berbeda-beda - Qs. 72 al-Jin : 11

Bagaimana bisa ada Jin yang sholeh dan ada yang jahat ?

Hai umat Jin dan manusia ! Apakah belum datang kepada kalian Rasul-Rasul dari jenismu sendiri ? Yang menyampaikan kepada kalian ayat-ayat Ku ? - Qs. 6 al-an’am : 130

Jelas, Tuhan sudah mengutus kepada bangsa Jin dan manusia sejumlah Rasul-Nya dari jenis mereka sendiri (untuk bangsa Jin Rasulnya juga Jin dan untuk bangsa manusia Rasulnya juga manusia), sehingga seperti umumnya manusia, maka meskipun sudah ada utusan Tuhan, Jin pun tetap saja ada yang ingkar dan ada juga yang beriman. Sepanjang sejarah kerasulan, hanya dua kali penyimpangan pengutusan Rasul manusia yang juga berfungsi selaku Rasul bagi bangsa Jin, mereka adalah Nabi Sulaiman putra Daud dan Nabi Muhammad Saw ayah dari Fatimah az-Zahra.

Apakah ini berarti menentang surah al-an’am diatas ?
Saya tidak melihatnya seperti itu, saya berpendapat bahwa pengutusan Nabi Sulaiman kepada bangsa Jin berhubungan erat dengan mukjizat kenabiannya, bukankah masing-masing Nabi diutus dengan membawa kelebihan tersendiri dari sisi Tuhan ?

Kami tundukkan juga untuk (Sulaiman) setan-setan
- Qs. 38 Shaad : 37

Lalu sebagian Jin ada yang bekerja dihadapan Sulaiman dengan izin Tuhannya - Qs. 34 Sabaa’ : 12

Sementara pengutusan Nabi Muhammad kepada bangsa Jin berhubungan erat dengan status kenabian beliau selaku Khataman Nabi atau penutup para Nabi yang berfungsi menyebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam - Qs. 21 al-anbiya : 107

Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi.
- Qs. 33 al-ahzaab : 40

Diayat terakhir, Allah tidak menceritakan kepada kita mengenai status kenabian dari Muhammad yang terakhir apakah hanya berlaku untuk bangsa manusia saja ataukah juga berlaku bagi Nabi dari bangsa Jin ? Namun berasumsi dari surah al-anbiya, saya berpendapat bahwa status Khataman-Nabi dari Muhammad bersifat menyeluruh, artinya Beliau adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Tuhan bagi Jin dan Manusia.

Darimana kita tahu Nabi Muhammad pernah berdakwah didunia Jin ?

Ceritakanlah : Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan Jin telah mendengar al-Qur’an - Qs. 72 al-Jin : 1

Dan ketika Kami hadapkan serombongan Jin kepadamu untuk mendengarkan al-Qur’an - Qs. 46 al-ahqaaf : 1

Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan dari Jin Maka aku mendatangi mereka lalu aku membacakan al-Qur’an terhadap mereka
- Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad

Adakah Nabi menjelaskan tentang keadaan atau jenis-jenis Jin yang ada ?

Jin itu tiga jenis : Jenis yang memiliki sayap dan terbang diudara, Jenis ular dan kalajengking dan jenis menetap atau berpindah-pindah
– Hadis Riwayat Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi

Apakah wujud Jin itu masih berbentuk api ?
Saya belum mendapatkan informasi pastinya dari al-Qur’an maupun Hadist, akan tetapi menurut saya pribadi, Tidak ! Karena logikanya, manusia pun asalnya adalah tanah, lalu apakah kita ini masih berbentuk tanah juga ? demikian juga pasti dengan Jin, asalnya api, namun keadaan mereka sekarang pasti tidak lagi berbentuk api.

Buktinya, Nabi Muhammad pernah bermaksud untuk mengikat Jin ‘Ifrit yang mencoba mengganggu sholat beliau sehingga wujud dari Jin itu bisa dilihat oleh orang awam dengan mata telanjang namun niat tersebut dibatalkan oleh Nabi sendiri mengingat hal itu sudah pernah menjadi mukjizat Nabi Sulaiman, dan ini mengindikasikan bahwa Jin itu sudah tidak lagi berwujud api, jika tidak, bagaimana cara Nabi mengikat Jin itu ?

Sesungguhnya ‘Ifrit dari Jin telah meloncat kepadaku semalam untuk menghentikan Sholatku dan Allah memberi kuasa kepadaku terhadap Jin itu, maka aku bawa dia. Sebenarnya aku ingin mengikatnya kesebelah pagar masjid sehingga dengan demikian waktu pagi kamu semua dapat melihatnya tapi aku ingat perkataan saudaraku Sulaiman : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan berilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku, karena itu Allah menolaknya dengan mengusirnya – Hadis Riwayat Muslim

Permintaan Nabi Sulaiman pada hadist diatas bisa juga dibaca pada surah 38 Shaad ayat 35, yang intinya Nabi Sulaiman meminta diberikan oleh ALLAH kekuasaan dan mukjizat istimewa yang tidak akan sama dengan manusia dan Nabi manapun yang hidup setelah kematiannya nanti (terbukti dengan di-izinkannya beliau memerintah bangsa Jin dan menguasai bahasa semut dan burung – lihat surah 27 an-Naml ayat 18 dan seterusnya).

Kembali lagi pada wujud Jin, masih menurut saya, tanah maupun api merupakan unsur pembentuk pertama dan setelah melalui proses-proses yang ada, maka unsur-unsur tersebut hanya akan membekas pada sifat dan bukan lagi pada bentuk atau wujud tubuh dari manusia atau Jin. Sifat tanah itu keras, maka sifat dan hati manusia pun banyak yang keras, begitu pula sifat tanah itu lembut dan lengket, maka manusia juga tidak jarang memiliki sifat yang lemah lembut serta penyayang (melekatkan hati kepada sesuatu, baik dari sisi positip atau negatip). Sementara sifat api adalah panas, membakar, mudah dibawa oleh angin serta menghancurkan, maka ini juga yang menjadi sifat dari Jin dan mempengaruhi watak Iblis yang sombong, egoisme, mau menang sendiri, jahat, kejam serta siap menghancurkan atau menjerumuskan musuh-musuhnya.

Selanjutnya, apakah Jin memiliki markas besar tempat semua jenisnya berkumpul ?

Tidak ada informasi yang pasti seputar hal ini, namun Nabi ada menyatakan bahwa istana Iblis ada diatas air.

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya diatas air, Kemudian dia mengutus pasukannya Maka yang paling dekat kepadanya adalah yang paling hebat fitnahnya - Hadis Riwayat Muslim dari Jabir

Mungkinkah lautan Bermuda adalah tempat dimana singgasana Iblis berada seperti hadis diatas, mengingat banyaknya kejadian aneh seperti hilangnya kapal laut dan udara yang melalui tempat tersebut ?

Jawabnya pun kita tidak tahu pasti mengenai hal ini, namun harus diketahui juga bahwa laut Bermuda bukan satu-satunya tempat yang dianggap lautan setan, di Jepang terbukti ada juga lautan sejenis yang bernama Laut Formosa bahkan dipulau Jawa sendiri juga ada Laut Selatan yang dianggap orang sebagai pusat kerajaan Roro Kidul.


Wassalam,